<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>paraBook &#8211; ParaPOP</title>
<atom:link href="https://parapop.net/category/parabook/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>https://parapop.net</link>
<description>Parenthesis of POP!!</description>
<lastBuildDate>Wed, 23 Sep 2026 13:14:18 +0000</lastBuildDate>
<language>en-US</language>
<image>
<url>https://parapop.net/wp-content/uploads/2016/07/cropped-IMG_7618-e1469729839770-32x32.jpg</url>
<title>paraBook &#8211; ParaPOP</title>
<link>https://parapop.net</link>
<width>32</width>
<height>32</height>
</image>
<item>
<title>Ny. Talis: Bukan Sekadar Anomali Kisah Cinta Madras</title>
<link>https://parapop.net/ny-talis-bukan-sekadar-anomali-kisah-cinta-madras/</link>
<dc:creator><![CDATA[Lita Soerjadinata]]></dc:creator>
<pubDate>Tue, 24 Sep 2024 04:19:29 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[paraBook]]></category>
<category><![CDATA[Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Book]]></category>
<category><![CDATA[Budi Darma]]></category>
<category><![CDATA[Buku]]></category>
<category><![CDATA[review buku]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=27962</guid>
<description><![CDATA[Karya-karya Budi Darma dikenal dengan metafora-metaforanya yang membuat pikiran pembacanya. Penikmat sastra yang telah membaca ‘Olenka’, karya Budi Darma yang dianggap paling fenomenal kebanyakan terpukau dengan gambaran tubuh perempuan yang disamakan dengan peta dunia. Tubuh itu bisa diletakkan di meja, atau di atas lemari. Metafora-metafora yang mengundang banyak arti juga bertebaran di dalam novel kisah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Karya-karya Budi Darma dikenal dengan metafora-metaforanya yang membuat pikiran pembacanya. Penikmat sastra yang telah membaca ‘Olenka’, karya Budi Darma yang dianggap paling fenomenal kebanyakan terpukau dengan gambaran tubuh perempuan yang disamakan dengan peta dunia. Tubuh itu bisa diletakkan di meja, atau di atas lemari.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2024/09/Ny.-Talis_-Bukan-Sekadar-Anomali-Kisah-Cinta-Madras-1024x576.png" alt="Ulasan lagu Ny. Talis: Bukan Sekadar Anomali Kisah Cinta Madras - ParaPOP" class="wp-image-27965" title=""></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Metafora-metafora yang mengundang banyak arti juga bertebaran di dalam novel kisah Ny Talis ini. Saya mencatat ada metafora yang diwakili oleh debu, tembong (bintik hitam yang ada di tubuh manusia), burung, juga bianglala.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Debu dan Penguasa</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Halaman pertama dari novel Ny Talis diisi dengan kutipan kalimat yang diucapkan diktator Italia, Mussolini: “Inilah takdir saya. Dari debu, naik ke kekuasaan. Dan dari kekuasaan, kembali ke debu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Ny Talis tidak berkisah tentang kekuasaan dan penguasa. Novel ini menebar cerita tentang takdir dan kodrat. Beberapa kali Budi Darma menulis kalimat tentang manusia yang tidak dapat memilih takdirnya, termasuk kematian. Juga mengenai kodrat perempuan: menikah dan punya anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perempuan memang memenuhi cerita dalam novel ini. Selain Ny Talis, ada Wiwin dan Santi Wedanti. Ketiganya dihubungkan oleh Madras: bahwa Madras jatuh cinta kepada ketiganya. Bila Madras sedang bersama Santi Wedanti, ia teringat kepada Wiwin. Bila Madras sedang duduk bercakap-cakap dengan Wiwin, ia membayangkan Santi Wedanti. Namun, bayangan tentang Ny Talis selalu mengisi pikiran Madras, ketika ia sedang berada di samping Wiwin maupun Santi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah ketiga perempuan ini dihadiri oleh keberadaan Madras. Meskipun Madras tidak hadir secara langsung dalam kehidupan Ny Talis, tetapi ia sesekali berkelindan dengan Ny Talis. Baik secara sengaja, maupun dipaksa sengaja. Misalnya ketika Ny Talis dipenjara, Madras mencari tahu apa yang terjadi dengan Ny Talis, dan berusaha membantunya. Dari latar belakang ini, kisah hidup Ny Talis diceritakan oleh Budi Darma.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kelahiran dan Kematian</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kelahiran dan kematian menjadi benang merah terbesar dalam novel Ny Talis. Bahwa kita lahir sebagai debu, dan meskipun kita telah berhasil naik ke kekuasaan tertinggi, kita akan kembali menjadi debu ketika mati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya berasumsi itulah mengapa Budi Darma menceritakan bahwa Madras tidak bisa ‘hadir’ ketika ibunya dimakamkan, juga ketika ia duduk di sebuah bukit sambil menyaksikan pemakaman. Matanya bisa melihat prosesi itu, tetapi jiwanya tidak. Tidak ada satu pun manusia yang tahu seperti apa dirinya ketika ajalnya menjemput, kapan, di mana, dan dengan cara apa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kita ikuti hukum Maha Pencipta. Percayalah, yang dulu ada, sekarang tidak ada. Yang sekarang ada, kelak tidak ada. Yang sekarang belum ada, kelak akan ada. Demikian pula kita, demikian pula anak turun kita. Hanya Maha Pencipta yang selalu ada.” (lits)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Eksplorasi kurasi harian kami yang tak kalah memikat bisa kamu temukan dalam ulasan <a href="https://parapop.net/dama-blake-cherry/"><strong>Dama Blake &#8211; Cherry</strong></a> serta tembang pilihan di arsip <a href="https://parapop.net/the-offspring-obati-kerinduan-yang-mendalam-lewat-rilisan-album-let-the-bad-times-roll/"><strong>The Offspring Obati Kerinduan Yang Mendalam Lewat Rilisan Album “Let The Bad Times Roll”</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Rayakan 30 Tahun Karir, Phoenix Rilis Buku “Phoenix: Liberté, Égalité, Phoenix!”</title>
<link>https://parapop.net/rayakan-30-tahun-karir-phoenix-rilis-buku-phoenix-liberte-egalite-phoenix/</link>
<dc:creator><![CDATA[Noverdy Putra]]></dc:creator>
<pubDate>Fri, 11 Aug 2023 04:12:30 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[paraBook]]></category>
<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
<category><![CDATA[Phoenix]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=20104</guid>
<description><![CDATA[Khidmat mendengarkan Phoenix saat rilis album “Alpha Zulu” tahun 2022 lalu menjadi semakin lengkap jika kita turut serta membaca kisah kuartet asal Perancis ini dalam buku “autobiografi” mereka yang berjudul “Phoenix: Liberté, Égalité, Phoenix! “. Buku dengan tebal 240 halaman ini dirilis pada tahun 2019 dalam rangka peringatan 30 tahun karir Phoenix sejak formasi kuartet]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Khidmat mendengarkan Phoenix saat rilis album “Alpha Zulu” tahun 2022 lalu menjadi semakin lengkap jika kita turut serta membaca kisah kuartet asal Perancis ini dalam buku “autobiografi” mereka yang berjudul “Phoenix: Liberté, Égalité, Phoenix! “. Buku dengan tebal 240 halaman ini dirilis pada tahun 2019 dalam rangka peringatan 30 tahun karir Phoenix sejak formasi kuartet ini terbentuk 1989 silam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini ditulis oleh keempat personil Phoenix, Deck d&#8217;Arcy, Laurent Brancowitz, Thomas Mars dan Christian Mazzalai dengan bantuan Laura Snapes (Deputi editor musik The Guardians dan kontributor Pitchfork).  Buku dengan judul <em>plesetan</em> semboyan negara Perancis ini menghadirkan arsip foto personal masing-masing personil Phoneix, termasuk semua instrumen yang pernah dan masih mereka gunakan. Terdapat lirik dan kord dengan notasi lengkap, selain sejarah band Phoenix dari wawancara masing-masing mereka. Buku ini adalah sebuah panduan lengkap untuk melihat bagaimana band pemenang Best Alternative Album Grammy Awards tahun 2019 ini berevolusi.</p>



<iframe loading="lazy" style="height:800px;width:600px;" id="atomic-insight-reader" src="https://insight.randomhouse.com/widget/v4/?width=600&#038;isbn=9780847864836&#038;author=&#038;title="></iframe>



<p class="wp-block-paragraph">Buku Phoenix: Liberté, Égalité, Phoenix! Diterbitkan oleh Rizzoli dengan harga hampir menyentuh 50 dolar. <em>Merde!</em> Mengumpat dalam bahasa ibu Phoenix sepertinya satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini, sembari menabung dan berharap buku ini terselip dalam festival diskon buku impor kesayangan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Brother Bird – What We’ve Become</title>
<link>https://parapop.net/brother-bird-what-weve-become/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Thu, 30 Apr 2020 11:10:07 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[paraBook]]></category>
<category><![CDATA[Acoustic]]></category>
<category><![CDATA[Brother Bird]]></category>
<category><![CDATA[Indie Folk]]></category>
<category><![CDATA[Singer Songwriter]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=6484</guid>
<description><![CDATA[Jangan tertipu dengan nama musisi ini, Brother Bird, mendengarkan single “What We’ve Become” maka segala masalah-masalah anda yang ada dipundak seketika sirna. Vokal yang magis wahai gadis asal Amerika Serikat nun jauh disana. Iringan petikan gitar yang minimalis menjadikannya bertambah khidmat. Single ini adalah tambahan akhir pada album debut Brother Bird yang sepertinya tertunda akibat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed-spotify wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-embed-aspect-9-16 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: What We&amp;apos;ve Become" style="border-radius: 12px" width="100%" height="152" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/track/3w3UhPH7krBuulkhu372p4?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan tertipu dengan nama musisi ini, <strong>Brother Bird</strong>, mendengarkan single “What We’ve Become” maka segala masalah-masalah anda yang ada dipundak seketika sirna. Vokal yang magis wahai gadis asal Amerika Serikat nun jauh disana. Iringan petikan gitar yang minimalis menjadikannya bertambah khidmat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Single ini adalah tambahan akhir pada album debut Brother Bird yang sepertinya tertunda akibat pandemi. Melalui instagramnya, “What We’ve Become” sesungguhnya diniatkan hanya sebagai demo, namun memilih lagu ini untuk menjadi single perkenalan adalah langkah yang tepat. Saat ini kita pun dituntut harus bersabar menunggu album penuhnya setelah mendengarkan “What We’ve Become”. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Brother Bird<br></strong><a href="https://www.instagram.com/brotherbird_/" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">www.instagram.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Buku “Glitter Up the Dark” Bahas Hubungan Musik Dan Gender</title>
<link>https://parapop.net/buku-glitter-up-the-dark-bahas-hubungan-musik-dan-gender/</link>
<dc:creator><![CDATA[Noverdy Putra]]></dc:creator>
<pubDate>Wed, 29 Apr 2020 10:21:11 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[paraBook]]></category>
<category><![CDATA[News]]></category>
<category><![CDATA[Sasha Geffen]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=6405</guid>
<description><![CDATA[Sasha Geffen, sang penulis mengeksplorasi bagaimana seniman menggunakan musik, fashion, bahasa dan teknologi untuk menyuarakan dan berekspresi tentang gender. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membunuh waktu selama masa pandemi. Jika anda telah cukup lelah menonton, salah satu hal lain yang bisa dilakukan adalah membaca buku. Kami akan coba terus mengabarkan buku-buku terbaru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Sasha Geffen, sang penulis mengeksplorasi bagaimana seniman menggunakan musik, fashion, bahasa dan teknologi untuk menyuarakan dan berekspresi tentang gender.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membunuh waktu selama masa pandemi. Jika anda telah cukup lelah menonton, salah satu hal lain yang bisa dilakukan adalah membaca buku. Kami akan coba terus mengabarkan buku-buku terbaru tentang musik dan budaya pop.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kali ini buku baru yang layak kita tunggu berjudul <strong>Glitter Up the Dark: How Pop Music Broke the Binary</strong>, karya <strong>Sasha Geffen</strong>. Kritikus musik asal Colorado, ia juga adalah kontributor tulisan untuk Pitchfork. Dalam buku ini Sasha melakukan kajian budaya terhadap kaitan musik dan gender. Bagaimana kadang muncul asosiasi tertentu jika mendengarkan penyanyi A, maka kamu adalah seorang gay.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rumit memang, namun hal ini justru menarik dan sepertinya jarang dibahas. Bagaimana efek pop musik bagi generasi musisi yang mendobrak norma, lalu bagaimana persepsi publik terhadap gender dan hubungannya terhadap ras dan kelas politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dimulai dari era awal blues, lalu The Beatles, dan nama-nama seperti David Bowie, Prince, Missy Elliot hingga Frank Ocean. Sasha mengeksplorasi bagaimana seniman menggunakan musik, <em>fashion,</em> bahasa dan teknologi untuk menyuarakan dan berekspresi tentang gender. Dari <em>glam rock</em> dan punk, disko, <em>techno</em> lalu hip-hop, musik menjadi panggung bagi percakapan hari ini untuk hak-hak transgender.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kamu butuh bacaan, buku ini dapat mencerahkan dan memberi sudut pandang baru yang menarik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Format: Paperback / softback<br>Pages: 264 pages<br>Publisher: University of Texas Press<br>Publication Date: 05/05/2020<br>ISBN: 9781477318782</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Buku “Meet Me in the Bathroom” Akan Diadaptasi Menjadi Miniseri Dokumenter</title>
<link>https://parapop.net/buku-meet-me-in-the-bathroom-akan-diadaptasi-menjadi-miniseri-dokumenter/</link>
<dc:creator><![CDATA[Amalia Putri]]></dc:creator>
<pubDate>Wed, 25 Apr 2018 01:58:21 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[News]]></category>
<category><![CDATA[Films]]></category>
<category><![CDATA[Music]]></category>
<category><![CDATA[paraBook]]></category>
<category><![CDATA[Interpol]]></category>
<category><![CDATA[Lizzy Goodman]]></category>
<category><![CDATA[The Strokes]]></category>
<category><![CDATA[Yeah Yeah Yeahs]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=2099</guid>
<description><![CDATA[“Meet Me in the Bathroom” merekam geliat dan kebangkitan rock pada dekade awal abad 21 di Kota New York, Kota Impian. Belum genap setahun sejak dirilis, Desember lalu Pulse Films mengumumkan rencana untuk mengadaptasi buku ini menjadi sebuah miniseri dokumeter.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lizzy Goodman</strong>, jurnalis serta penulis buku “<strong>Meet Me in the Bathroom</strong>” selalu membayangkan bagaimana jika buku yang ia habiskan enam tahun penyusunannya ini dijadikan film dokumenter.<em> “Kini saatnya saya membagikan tampilan penuh kapsul waktu yang kotor, cantik, tapi aneh yang pernah aku jalani pada semua orang,</em>” ujarnya. Pulse Film telah mengantongi izin untuk mewujudkannya. Film ini akan berdurasi empat jam dan terbagi atas empat bagian.</p>
<p><figure id="attachment_2100" aria-describedby="caption-attachment-2100" style="width: 537px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-2100" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2018/04/170622_MUSIC_meetMeInTheBathroom.jpg.CROP_.article250-medium1-1.jpg" alt="Buku “Meet Me in the Bathroom” Akan Diadaptasi Menjadi Miniseri Dokumenter" width="537" height="376" title=""><figcaption id="caption-attachment-2100" class="wp-caption-text">Buku “Meet Me in the Bathroom” Akan Diadaptasi Menjadi Miniseri Dokumenter</figcaption></figure></p>
<p>Will Lovelace and Dylan Southern&#8211;duo yang mengarahkan film dokumenter konser LCD Soundsystem tahun 2012 lalu&#8211;yang didapuk sebagai sutradara. Untuk film ini, mereka berjanji akan menciptakan film yang mendefinisikan ulang bentuk dokumenter musik. Belum ada tanggal pasti kapan film ini rampung dan siap diluncurkan. Sementara itu, Lizzy Goodman akan menduduki kursi produser eksekutif.</p>
<p>Buku ini menggambarkan New York yang cantik, impian semua orang, dengan segala kontradiksinya. Pada masa itu, <em>grunge </em>dan <em>hip hop </em>masih mendominasi industri musik dimana internet belum meraja dan tak ada istilah <em>unduh mp3 </em>di kalangan remaja. Lizzy, memulai masa kuliahnya dan berteman dengan Nick Valensi, murid sekolahan yang sedang gandrung main band bersama teman-temannya. Kelak, anak-anak muda yang ia sebut seperti sekumpulan Holden Caulfield ini akan menjadi band rock The Strokes yang kita kenal saat ini.</p>
<p>Perubahan sosial ekonomi, tragedi 9/11, dan kehidupan hura-hura yang dijalani adalah sederet isu yang disampaikan langsung oleh para musisi yang Anda senangi. Bukan biopik, tidak pula narasi melulu. Pendekatan yang dilakukan Lizzy Goodman memang berbeda. Buku yang terbagi atas empat bagian ini menampilkan hasil dari 160 kali wawancara dengan personil band seperti The Strokes, Yeah Yeah Yeahs, Interpol, dan banyak lagi. Baik buku maupun film dokumenternya sangat membuat penasaran. Apa Anda sudah dapat membayangkan seperti apa jadinya mini seri dokumenter ini? Mari sama-sama kita nantikan.</p>
<p>(AMP/KCK)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Fearless. : The Making of Post-Rock, Sebuah upaya memahami Post-Rock.</title>
<link>https://parapop.net/fearless-making-post-rock-sebuah-upaya-memahami-post-rock/</link>
<dc:creator><![CDATA[Noverdy Putra]]></dc:creator>
<pubDate>Wed, 31 May 2017 10:12:13 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[paraBook]]></category>
<category><![CDATA[AR Kane]]></category>
<category><![CDATA[books]]></category>
<category><![CDATA[Codeine]]></category>
<category><![CDATA[Disco Inferno]]></category>
<category><![CDATA[Fearless. : The Making of Post-Rock]]></category>
<category><![CDATA[Fridge]]></category>
<category><![CDATA[Godspeed You! Black Emperor]]></category>
<category><![CDATA[Jeanette Leech]]></category>
<category><![CDATA[Mogwai]]></category>
<category><![CDATA[Slint]]></category>
<category><![CDATA[Stereolab]]></category>
<category><![CDATA[Talk Talk]]></category>
<category><![CDATA[Tortoise]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=1666</guid>
<description><![CDATA[Hidup yang tidak diperiksa ulang, tidak pantas untuk dijalani, ujar Socrates. Tampaknya Jeanette Leech sepaham dengan itu. Lewat buku terbarunya, Leech berupaya untuk memeriksa ulang keimanan pemuja post-rock.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Setelah ditahun 1994, kritikus musik Simon Reynolds menggunakan terminologi “post-rock”, genre musik ini kian berkembang hingga saat ini. Tidak hanya di belahan bumi sana, di negara kita tercinta, Indonesia, beberapa band beraliran post-rock juga bermunculan dan menuai sukses.

Sempat pula terjadi ketegangan di lini masa ketika beberapa orang beranggapan bahwa musik post-rock tidak dapat dinikmati, dan mereka yang mengimani genre ini sebagai penggemar hanya mengejar prestise semata, atau singkatnya “<em>biar keren aja..</em>”. Selain itu penggemar post-rock juga dianggap terlalu tinggi hati dan menganggap genre musik mereka nan paling paripurna.<em> Yup, fucking exclusive bastard!</em>

Dinamika seperti ini adalah hal yang biasa. Tak perlu disikapi dengan gerakan anti-post-rock <del>atau demo hingga ke istana negara.</del>

<figure id="attachment_1667" aria-describedby="caption-attachment-1667" style="width: 620px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-1667 size-full" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2017/05/9781911036159.jpeg" alt="Fearless. : The Making of Post-Rock, Sebuah upaya memahami Post-Rock." width="620" height="884" title=""><figcaption id="caption-attachment-1667" class="wp-caption-text">Hidup yang tidak diperiksa ulang, tidak pantas untuk dijalani, ujar Socrates. Tampaknya Jeanette Leech sepaham dengan itu. Lewat buku terbarunya, Leech berupaya untuk memeriksa ulang keimanan pemuja post-rock.</figcaption></figure>

Nah, guna memberikan jalan tengah bagi semua. Sebuah buku yang ditulis<strong> Jeanette Leech</strong> berjudul <strong>Fearless. : The Making of Post-Rock</strong> berupaya mengulas bagaimana subgenre ini mulai berkembang dimasa awalnya. Buku setebal 392 halaman ini dilepas ke pasaran pada 30 Mei 2017 lewat penerbit Jawbone Press.

Ada banyak wawancara dengan dedengkot-dedengkot post-rock zaman awal, yang saya sendiri tak begitu akrab dengan namanya. Godspeed You! Black Emperor, Tortoise, Stereolab, AR Kane, Disco Inferno, Fridge, Codeine, Slint, Talk Talk, hingga Mogwai adalah beberapa nama tersebut. Tenang, bagi saya yang juga pendengar post-rock era kekinian dan juga mungkin anda, ada nama Sigur Ros dalam daftar interview panjang buku ini.

<iframe loading="lazy" style="border: 0; width: 350px; height: 470px;" src="https://bandcamp.com/EmbeddedPlayer/album=95070257/size=large/bgcol=ffffff/linkcol=0687f5/tracklist=false/track=234170875/transparent=true/" width="300" height="150" seamless=""><a href="http://tortoise.bandcamp.com/album/the-catastrophist" rel="nofollow noopener" target="_blank">The Catastrophist by Tortoise</a></iframe>

Pada rilis pers yang disebarkan, Jeanette Leech yang juga penulis buku “Seasons They Change” (sebuah buku tentang sejarah musik acid dan rock psikedelik) menyebut buku <strong>Fearless. : The Making of Post-Rock:</strong> <em>“explores how the strands of post-rock entwined, frayed, and created one of the most diverse bodies of music ever to huddle under one name,”.</em>

Dengan sampul buku yang dirancang oleh Graham Sutton, personil band Bark Psychosis, salah satu ikon band post-rock zaman pra-millenial, <strong>Fearless. : The Making of Post-Rock</strong> seharusnya menjadi salah satu kejaran kita bersama yang ingin tahu lebih dalam soal genre musik ini. Sebuah upaya agar tak dicap hipster-kurang-hiburan.

Pilihannya, anda bisa saja menunggu buku ini terpajang di rak toko buku impor berpendingin-ruangan, atau bisa coba kontak pelapak buku impor kesayangan anda di tanah Instagram.
(VERD)


<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Rekomendasi dengar lintas waktu untuk menemani perjalanan pulangmu: ulasan <a href="https://parapop.net/dama-blake-cherry/"><strong>Dama Blake &#8211; Cherry</strong></a> serta tembang istimewa di arsip <a href="https://parapop.net/neko-pink-feel-it/"><strong>Neko Pink &#8211; Feel It</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Haruki Murakami Menerbitkan Buku Terbarunya “Kishidancho Goroshi”</title>
<link>https://parapop.net/haruki-murakami-akan-menerbitkan/</link>
<dc:creator><![CDATA[Abdyka Wirmon]]></dc:creator>
<pubDate>Sat, 14 Jan 2017 02:57:24 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[News]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[paraBook]]></category>
<category><![CDATA[1Q84]]></category>
<category><![CDATA[Arawareru idea]]></category>
<category><![CDATA[Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage]]></category>
<category><![CDATA[Emerging Idea]]></category>
<category><![CDATA[Haruki Murakami]]></category>
<category><![CDATA[Killing Commendatore]]></category>
<category><![CDATA[Kishidancho Goroshi]]></category>
<category><![CDATA[Moving Metaphor)]]></category>
<category><![CDATA[Murder of the Knight Commander]]></category>
<category><![CDATA[Utsurou metaphor]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=630</guid>
<description><![CDATA[Haruki Murakami akan merilis Buku terbaru yang diberi judul “Kishidancho Goroshi”. Buku ini akan masuk toko-toko buku di kampung halamannya ini pada tanggal 24 februari 2017]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Haruki Murakami</strong> akan merilis Buku terbaru yang diberi judul &#8220;<strong>Kishidancho Goroshi</strong>&#8220;. Buku ini akan masuk toko-toko buku di kampung halamannya ini pada tanggal 24 Februari 2017. Iya , memang buku ini akan rilis menggunakan bahasa ibu si penulis. Dan kita (kecuali kamu yang fasih bahasa jepang) harus sedikit bersabar sampai buku ini akan diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan harus sangat-sangat sabar dan ikhlas menunggu sampai ada penerbit Indonesia yang bersedia membawa judul ini ke toko buku lokal terdekat. <em>Colek <a href="https://twitter.com/penerbitkpg" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">@penerbitkpg&nbsp;</a></em></p>
<figure id="attachment_631" aria-describedby="caption-attachment-631" style="width: 630px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-631" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2017/01/tytul-nowej-powiesci-murakamiego.jpg" alt="Haruki Murakami akan merilis Buku terbaru yang diberi judul &quot;Kishidancho Goroshi&quot;. Buku ini akan masuk toko-toko buku di kampung halamannnya ini pada tanggal 24 februari 2017" width="630" height="380" title=""><figcaption id="caption-attachment-631" class="wp-caption-text">Haruki Murakami akan merilis Buku terbaru yang diberi judul &#8220;Kishidancho Goroshi&#8221;. Buku ini akan masuk toko-toko buku di kampung halamannnya ini pada tanggal 24 februari 2017 ((c) Shinchosha Publishing Co.)</figcaption></figure>
<p>Murakami adalah salah satu penulis kontemporer terbaik di jepang. Dengan tema surealis nan absurd beliau telah beberapa kali dan menjadi langganan nominasi nobel sastra sejak lewat bukunya <strong>1Q84</strong>, <strong>Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage</strong> dan &#8220;Onna no Inai Otokotachi&#8221; (<strong>Men Without Women</strong>).</p>
<p>Buku ini kemungkinan besar akan segera diterbitkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul <strong>Killing Commendatore</strong> atau <strong>Murder of the Knight Commander</strong> <em>(Belum ada konfirmasi judul edisi mana yang akan digunakan)</em>, namun satu hal yang dipastikan bahwa buku ini akan dibagi menjadi 2 bagian. Buku bagian pertama dinamai “<strong>Arawareru idea</strong>” (<strong>Emerging Idea</strong>) dan buku bagian kedua “<strong>Utsurou metaphor</strong>” (<strong>Moving Metaphor</strong>) yang akan diterbitkan bersamaan.</p>
<p>Akan seperti apa plot buku ini? Sampai saat ini masih dirahasiakan oleh pihak penerbit Bungeishunju Ltd. Namun percayalah tidak ada kata plot dalam <em>storyline</em> kamus penulisan bapak yang satu ini.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>George R.R Martin (masih) Mengerjakan buku Winds of Winter</title>
<link>https://parapop.net/george-r-r-martin-masih-mengerjakan-buku-winds-winter/</link>
<dc:creator><![CDATA[Abdyka Wirmon]]></dc:creator>
<pubDate>Wed, 11 Jan 2017 12:35:45 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[News]]></category>
<category><![CDATA[paraBook]]></category>
<category><![CDATA[A dance with Dragons]]></category>
<category><![CDATA[A Song of Ice and Fire]]></category>
<category><![CDATA[George R.R Martin]]></category>
<category><![CDATA[HBO]]></category>
<category><![CDATA[Winds of Winter]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=621</guid>
<description><![CDATA[Kita hanya berharap beliau bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan berdoa tidak ada asteroid yang mampir ke bumi.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menunggu 6 season, <em>Winter</em> akhirnya sampai di <a href="https://parapop.net/game-thrones-hadirkan-wine-rasa-westeros/"><strong>Game of Thrones</strong></a>. TV series terlaris <strong>HBO</strong> ini akan tayang kemungkinan April 2017 dengan musim dingin yang panjang dan disertai <em>White Walker</em> di seberang <em>The Wall</em>. Namun kita harus kembali bersabar untuk bisa menikmati buku fantasi <strong>Winds of Winter</strong> hadir di rak-rak toko buku.</p>
<figure id="attachment_622" aria-describedby="caption-attachment-622" style="width: 770px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-622" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2017/01/George-R.R-Martin-masih-Mengerjakan-buku-The-Winds-of-Winter-.jpg" alt="George R.R Martin (masih) Mengerjakan buku The Winds of Winter" width="770" height="554" title=""><figcaption id="caption-attachment-622" class="wp-caption-text">Kita hanya berharap beliau bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan berdoa tidak ada asteroid yang mampir ke bumi.</figcaption></figure>
<p><strong>George R.R Martin</strong> penulis seri buku <strong>A Song of Ice and Fire</strong> ini belakangan mengungkapkan update tentang proses penulisan buku The Winds of Winter di <a href="http://grrm.livejournal.com/514373.html?thread=25502277#t25502277" target="_blank" rel="noopener noreferrer nofollow">blog pribadinya</a> setelah seorang pembaca / penggemar seri buku ini yang mungkin telah letih dan jengah oleh simpang-siur kapan buku lanjutan <strong>A dance with Dragons</strong> bisa mereka nikmati.</p>
<p>Penggemar tersebut mengharapkan George R.R Matin untuk buka-bukan tentang progress dan detail terperinci kapan buku ini akan terbit dengan harapan tidak ada lagi keraguan dan memunculkan harapan untuk pembaca setianya.</p>
<p style="text-align: right;"><em>“If you think a &#8220;tell all&#8221; or update on WINDS OF WINTER would stop fans from asking about it&#8230; well, I love your optimism, but my own decades of experience suggest otherwise.</em><br />
<em>There are only two things that will stop people asking me about WOW:</em><br />
<em>(1) my finishing and delivering the book, or (2) a giant asteroid hitting the Earth and destroying human </em>civilization<em>.</em><br />
<em>As I have no control over (2), I am working on (1).</em><br />
<em>However, I know perfectly well that the moment I announce the completion and delivery of THE WINDS OF WINTER, I will start to get emails demanding to know how A DREAM OF SPRING is coming.</em><br />
<em>So it goes&#8230;”</em></p>
<p><em>Hmmm..</em> sepertinya kita hanya berharap beliau bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan berdoa tidak ada asteroid yang mampir ke bumi. <em>Semangat terus ya om R.<br />
</em>(DYKA)</p>
]]></content:encoded>
</item>
</channel>
</rss>
