<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Album Reviews &#8211; ParaPOP</title>
<atom:link href="https://parapop.net/category/reviews/album-reviews/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>https://parapop.net</link>
<description>Parenthesis of POP!!</description>
<lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2026 06:58:56 +0000</lastBuildDate>
<language>en-US</language>
<image>
<url>https://parapop.net/wp-content/uploads/2016/07/cropped-IMG_7618-e1469729839770-32x32.jpg</url>
<title>Album Reviews &#8211; ParaPOP</title>
<link>https://parapop.net</link>
<width>32</width>
<height>32</height>
</image>
<item>
<title>Selamat Datang di Dreamhouse, Rumah Baru Deco yang Pintunya Dibiarkan Terbuka</title>
<link>https://parapop.net/selamat-datang-di-dreamhouse-rumah-baru-deco-yang-pintunya-dibiarkan-terbuka/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2026 06:58:47 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[Deco]]></category>
<category><![CDATA[electropop]]></category>
<category><![CDATA[Indie Pop]]></category>
<category><![CDATA[synth-pop]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=34840</guid>
<description><![CDATA[Ada rumah baru di Nottingham yang catnya masih basah dan pintunya sengaja dibiarkan terbuka. Deco membangunnya dengan dua belas ruangan, menamainya Dreamhouse, lalu mengundang siapa saja yang sedang butuh tempat untuk kabur sebentar. Di tahun yang bisingnya tidak kunjung reda, undangan seperti ini terdengar lebih menggoda dari biasanya. Kuartet synth-pop yang dibentuk kakak-beradik dan kawan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ada rumah baru di Nottingham yang catnya masih basah dan pintunya sengaja dibiarkan terbuka. <strong>Deco</strong> membangunnya dengan dua belas ruangan, menamainya <em>Dreamhouse</em>, lalu mengundang siapa saja yang sedang butuh tempat untuk kabur sebentar. Di tahun yang bisingnya tidak kunjung reda, undangan seperti ini terdengar lebih menggoda dari biasanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kuartet synth-pop yang dibentuk kakak-beradik dan kawan lama ini melejit lewat cover viral <em>Wonderwall</em>, <em>Yellow</em>, dan <em>Angels</em>, lalu membawa album debutnya ke posisi sepuluh tangga penjualan album Inggris dan sempat dapat acungan jempol dari <strong>Elton John</strong>. Di album kedua ini, lagu karangan orang lain tidak lagi duduk di ruang tamu. Semua penghuninya ciptaan sendiri.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Dreamhouse" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/4CkeXMPqgpf8vH2mZGltrr?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Max Kendall</strong>, sang vokalis, menyebut <em>Dreamhouse</em> pelarian dari kekacauan 2026, dan proses rekamannya jadi cara band menutup pintu dari bising dunia luar. Rumahnya pun tidak berhenti di musik, sampai ada konser intim di ruang tamu rumah penggemar. Kenyataan tidak dikunci di luar. Ia cuma diminta menunggu di teras sebentar, sementara kita menghilang ke dalam dan keluar lagi dengan kepala yang lebih ringan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pintu depannya adalah trek judul, dan fondasinya Roland Juno-6, synth kesayangan band yang mengalir di sepanjang album. Ia melangkah dengan hentakan mantap dan groove synth yang berdenyut, ditemani gitar funky, bass yang licin, chorus falsetto, dan saksofon <strong>Lucy Kendall</strong> yang kembali menyapa di chorus terakhir. Kalau album ini sebuah masakan, Juno-6 adalah kaldunya, dan saksofon itu bumbu yang membuat kita langsung tahu ini dapur siapa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di album ini saksofon tidak lagi menunggu giliran solo, tapi jadi lapisan di hampir setiap lagu. <em>Dreamhouse</em> sendiri nyaris rampung ditulis dalam sehari, dan seluruh album selesai dalam enam bulan, jauh lebih cepat dari debut mereka yang ditulis tiga tahun di banyak ruangan berbeda. Hasilnya terdengar padu. Sekilas ada jejak <strong>Hot Chip</strong> dan <strong>Nation of Language</strong>, tapi rumah ini tetap punya wajahnya sendiri, nostalgis tanpa terasa seperti acara reuni yang canggung.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Deco - Weekend (Official Video)" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/cID-UC9wheE?feature=oembed&#038;enablejsapi=1&#038;origin=https://parapop.net" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Weekend</em> menangkap rasa tak sabar lepas dari rutinitas lewat perkusi yang berbaris rapi dan chorus yang minta dinyanyikan bareng. <em>You’re So Beautiful</em> membungkus detik sadar sedang jatuh cinta jadi pop elektronik yang euforik. <em>BIG!!!</em> menertawakan aturan industri musik yang berganti lebih sering daripada jadwal ganjil-genap, sementara <em>Make A Video</em> melambat dengan ketukan downtempo dan petikan gitar yang menusuk-nusuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruangan paling terang ada di <em>On The Radio</em>, lagu andalan album ini. Ia bercerita tentang sensasi mendengar lagu yang terasa milikmu sendiri diputar di radio, entah lagu yang kamu tulis atau lagu yang sudah kamu klaim bersama teman-teman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Durasinya cuma dua menit lima puluh lima detik. Drum berjalan sejak awal, vokal <strong>Max</strong> langsung berdiri paling depan, synth dan bass synth mendorong dari belakang, semuanya di nada mayor yang terang. Di menit kedua lewat dua puluh detik, hampir semuanya ditarik mundur selama sekitar sepuluh detik dan vokal dibiarkan sendirian, lalu lagu kembali penuh seperti rumah yang lampunya padam sebentar dan menyala serentak.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Max</strong> menyebut lagunya tentang “big dreams, spontaneous nights with your favourite people”. Ada rindu di sana, tapi wajahnya tetap menghadap ke depan. Hook-nya euforik, dan tekstur synth yang sedikit lebih gelap menyelinap di bawahnya, cukup untuk menahan lagu ini supaya tidak kemanisan. Saya curiga kepala yang mengangguk-angguk begitu hook itu datang cuma soal waktu.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Deco - Driver&amp;apos;s Seat (Official Video)" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/nD-dtNFEfO8?feature=oembed&#038;enablejsapi=1&#038;origin=https://parapop.net" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak semua ruangan dicat kuning cerah. <em>Driver’s Seat</em> menutup album dengan keraguan diri dan tekad untuk terus menyetir walau belum tahu jalannya ke mana. Gitar dan teksturnya lebih tebal, dan saksofon <strong>Lucy</strong> mengambil alih paruh keduanya. Justru lagu seperti ini yang membuat optimisme album terasa diperjuangkan, bukan dibagikan gratis di pintu masuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih dari separuh lagunya sudah terdengar sebelum album keluar, dan buat yang baru mengetuk pintu <strong>Deco</strong> sekarang, itu justru kabar baik. Mereka bisa langsung masuk ke rumah yang perabotnya sudah lengkap, tanpa perlu menunggu ruangan dibuka satu per satu selama berbulan-bulan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penggemar lama pun tetap kebagian kejutan, karena <em>Talking In My Sleep</em> dan <em>Movie Star</em> baru dibuka sekarang, satu masuk lewat perkusi yang berkeresek lalu jadi jam synth-pop yang gelisah, satu lagi merapat ke disko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catnya mungkin masih basah. Tapi selama tiga puluh sembilan menit, rumah ini sudah sangat layak ditinggali.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Daftar lagu <em>Dreamhouse</em></strong></h2>



<ol class="wp-block-list">
<li><em>Dreamhouse</em></li>



<li><em>Talking In My Sleep</em></li>



<li><em>BIG!!!</em></li>



<li><em>Movie Star</em></li>



<li><em>Weekend</em></li>



<li><em>You’re So Beautiful</em></li>



<li><em>Fever Dream</em></li>



<li><em>Tiger Blood</em></li>



<li><em>Make A Video</em></li>



<li><em>On The Radio</em></li>



<li><em>Beautiful Things</em></li>



<li><em>Driver’s Seat</em></li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Deco Profile </h2>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://tiktok.com/@decoband" rel="nofollow noopener" target="_blank">tiktok.com</a></li>



<li><a href="https://instagram.com/decoband" rel="nofollow noopener" target="_blank">instagram.com</a></li>



<li><a href="https://facebook.com/decoband" rel="nofollow noopener" target="_blank">facebook.com</a></li>



<li><a href="https://youtube.com/decobanduk" rel="nofollow noopener" target="_blank">youtube.com</a></li>



<li><a href="https://x.com/decobanduk" rel="nofollow">x.com</a></li>
</ul>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=ZzhBQ7YaZmeBJBZ6E&#038;color=9575cd&#038;text=Published+in+partnership+with+SubmitHub" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Steve Maggiora dan Album Echoes of Us, Perpisahan yang Lebih Sering Jatuh Cinta</title>
<link>https://parapop.net/steve-maggiora-dan-album-echoes-of-us-perpisahan-yang-lebih-sering-jatuh-cinta/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2026 04:58:21 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Pop Rock]]></category>
<category><![CDATA[Singer Songwriter]]></category>
<category><![CDATA[Steve Maggiora]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=34810</guid>
<description><![CDATA[Sebuah sweater tertinggal di jok belakang mobil, dan baunya masih seperti kafe tempat dua orang dulu sering duduk. Dari benda sekecil itulah Steve Maggiora membuka Echoes of Us, album berisi sebelas lagu yang lahir dari berakhirnya hubungan selama empat tahun. Namanya mungkin lebih sering kamu temui di barisan kredit. Steve Maggiora pernah berkeliling dunia sebagai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebuah sweater tertinggal di jok belakang mobil, dan baunya masih seperti kafe tempat dua orang dulu sering duduk. Dari benda sekecil itulah <strong>Steve Maggiora</strong> membuka <em>Echoes of Us</em>, album berisi sebelas lagu yang lahir dari berakhirnya hubungan selama empat tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namanya mungkin lebih sering kamu temui di barisan kredit. <strong>Steve Maggiora</strong> pernah berkeliling dunia sebagai keyboardis sekaligus vokalis tur <strong>Toto</strong>, lalu bermain atau merekam bersama <strong>Ringo Starr</strong>, <strong>Joe Bonamassa</strong>, hingga <strong>GoldFord</strong>. Rock, soul, pop, blues, semua pernah ia jalani. Musisi pengiring memang mirip PNS, siap ditempatkan di mana saja. Kali ini ia menempatkan dirinya di tengah panggung, menulis, memproduseri, dan me-mix sendiri seluruh materinya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Echoes of Us - Steve Maggiora (2026) | Official Music Video" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/BM9JsS8W8Q0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu <em>Echoes of Us</em> dipilih sebagai lead single sekaligus pembuka album, dan ia memang pintu masuk yang tepat. Vokal <strong>Maggiora</strong> hadir sejak detik pertama, langsung disambut gitar <strong>John Philbrick</strong> dan drum <strong>Curtis Kelley</strong>, sementara bas dan sisa instrumen ia mainkan sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Temponya melaju sedang dengan nada yang terang, aransemennya condong retro, dan chorus-nya dibangun untuk dinyanyikan bersama sejak putaran pertama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menarik justru terjadi di sekitar menit ketiga. Drum mendadak mundur, sepuluh detik kemudian kembali, lalu giliran bas yang minggir sejenak sebelum semuanya menumpuk lagi dan <em>Echoes of Us</em> memuncak hingga detik terakhir dari durasinya yang empat menit lebih sedikit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jeda kecil itu membuat chorus terakhir punya landasan untuk melompat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di liriknya, ia memilih untuk tidak meratap. “<em>I don’t replay the heartbreak, I just rewind the light,”</em> nyanyinya. Kepala kita sudah mengangguk sebelum sempat memutuskan setuju atau tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu ada kejutan kecil. Album tentang perpisahan ini ternyata lebih sering jatuh cinta daripada mengenang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Coba lihat. <em>Chain Reaction</em> adalah naksir yang membuat orang rela bertingkah konyol, <em>Kinda Like Magic</em> merayakan cinta yang biasa-biasa saja, <em>Gravity</em> dan <em>Steady</em> bicara soal orang yang membuat kita selalu ingin pulang, dan <em>On Purpose</em> menutup album dengan cinta yang dipilih secara sadar setiap hari. Yang benar-benar menghadap ke akhir hubungan hanya segelintir. <em>Parallel Lines</em> memotret dua orang yang berjalan bersisian tanpa pernah bersentuhan, “Same room, same bed, different skies”, sementara <em>Stardust</em> mengenang sesuatu yang singkat tapi sempat menyala. Dari situ judul albumnya terbaca lain. Gema yang ia maksud bisa jadi termasuk lagu-lagu cinta yang tetap ia simpan setelah hubungannya selesai.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Echoes of Us" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/2SHz9DFMeWzcC74hG2W6uM?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Racikannya konsisten dari awal sampai akhir. Soulful pop menjadi kuah utama, dibumbui rock, R&amp;B, dan sedikit funk. Synth dan keyboard duduk berdampingan dengan gitar, drum yang dimainkan langsung, dan vokal yang ditumpuk berlapis-lapis. Hampir semua lagu berhenti di kisaran tiga sampai empat menit, dan seluruh album selesai dalam 39 menit, jadi tidak ada yang sempat dikunyah terlalu lama. <em>Our Time</em> membawa kait paling besar sekaligus ajakan kabur ke Paris. Ada umpatan di reff-nya yang membuat lagu ini kurang cocok diputar di mobil keluarga. Di barisan pemain album ini juga ada <strong>Alex Kyhn</strong>, bassist yang pernah mengiringi <strong>Sabrina Carpenter</strong> dan <strong>Macy Gray</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada pula sisi yang akan terasa akrab bagi kita yang sudah melewati kepala tiga. <em>We Could Have It All</em>, lagu terpendek di album ini, dengan santai menyebut dirinya “a mid-life cry fest”. Di <em>Steady</em>, ia ketinggalan pesawat lalu menembus jalan tol The Five tengah malam dengan kecepatan sembilan puluh mil per jam demi pulang ke pelukan, semacam mengebut di Cipali, hanya saja versi California.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatannya ada di judul-judul itu sendiri. <em>Gravity</em>, <em>Kinda Like Magic</em>, <em>Chain Reaction</em>, dan <em>Stardust</em> adalah metafora yang sudah dipakai ribuan lagu cinta sebelum ini, dan isinya jarang bergerak jauh dari yang dijanjikan judulnya. Mungkin ini soal selera saya yang terlalu lama tinggal di rak indie, tapi <strong>Maggiora</strong> justru paling tajam ketika ia konkret, seperti sweater di jok belakang, kafe lama, atau jalan tol tengah malam. Seandainya lebih banyak lagu ditulis dari benda-benda kecil semacam itu, album ini akan lebih mudah dibedakan dari rak soft rock di sebelahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat rajinnya <strong>Steve Maggiora</strong> melepas single demi single dari album ini, jangan kaget kalau gema <em>Echoes of Us</em> masih terdengar sampai tahun depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Daftar lagu album <strong>Steve Maggiora</strong> <em>Echoes of Us</em></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><em>Echoes of Us</em></li>



<li><em>Our Time</em></li>



<li><em>Chain Reaction</em></li>



<li><em>Half-Light</em></li>



<li><em>Kinda Like Magic</em></li>



<li><em>Gravity</em></li>



<li><em>Parallel Lines</em></li>



<li><em>Stardust</em></li>



<li><em>Steady</em></li>



<li><em>We Could Have It All</em></li>



<li><em>On Purpose</em></li>
</ol>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=iPfweBEReFkwutCbx&#038;color=9575cd&#038;text=Published+in+partnership+with+SubmitHub" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Unpopular, Album Jovi Skyler untuk Kita yang Betah di Pinggiran</title>
<link>https://parapop.net/unpopular-album-jovi-skyler-untuk-kita-yang-betah-di-pinggiran/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 06:50:32 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Grunge]]></category>
<category><![CDATA[indie rock]]></category>
<category><![CDATA[Jovi Skyler]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=34663</guid>
<description><![CDATA[Ditanya soal musik Dead Rockstars, Jovi Skyler menjawab dengan muka datar, “I obviously wanted to rip off Nirvana’s Smells Like Teen Spirit.” Lalu ia bilang bercanda. Lalu ia bilang, atau mungkin juga tidak. Pengakuan itu jadi lucu karena single pembuka ini justru bicara soal matinya keaslian, mesin dopamin, dan manusia yang hidup dengan cara salin-tempel.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Unpopular" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/33M0gnmlzXRppzMKo8o8tu?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ditanya soal musik <em>Dead Rockstars</em>, <a href="https://parapop.net/tag/jovi-skyler/"><strong>Jovi Skyler</strong></a> menjawab dengan muka datar, “I obviously wanted to rip off Nirvana’s Smells Like Teen Spirit.” Lalu ia bilang bercanda. Lalu ia bilang, atau mungkin juga tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengakuan itu jadi lucu karena single pembuka ini justru bicara soal matinya keaslian, mesin dopamin, dan manusia yang hidup dengan cara salin-tempel. Lebih lucu lagi, <em>Unpopular</em>, album kedua solois asal Sydney ini, dimastering oleh <strong>Jack Endino</strong>, orang yang duduk di balik meja ketika <strong>Nirvana</strong> menggarap <em>Bleach</em>. Ironi yang terlalu rapi untuk dikarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Resepnya diracik di sebuah basement studio di Sydney, dengan sesi terakhir rampung tepat di Twin Peaks Day. <strong>Jovi</strong> mengaku nyaris tidak tidur sepanjang rekaman, berteriak sekencang-kencangnya di ruang bawah tanah setelah berhari-hari melek. Kebiasaan begadang ditemani satu liter kopi ia bawa sejak dua tahun berkelana di Eropa, setelah suatu hari memutuskan bolos permanen dari Sydney Conservatorium of Music. Satu liter. Itu kadar kafein mahasiswa-tingkat-akhir-dikejar-dosen-pembimbing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kurang tidurnya memang terdengar. Ruangnya sempit dan kering. Drum akustik dipukul tanpa banyak polesan, bas mendengung di bawah, dan gitar berdistorsi mengisi bagian tengah dengan tekstur berpasir. Vokal <strong>Jovi</strong> parau dengan gigitan punk, santai di bait lalu mendadak menyerang, dan di beberapa bridge didorong sampai register tertingginya. Ada kemarahan yang ditahan di bait, lalu dilepas tanpa sisa di reff.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="JOVI SKYLER - DEAD ROCKSTARS (Official Music Video)" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/bhT7ZyUWgps?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Dead Rockstars</em> tidak membuang waktu. Riff gitar yang kasar langsung menyambar di detik pertama. Setelah <strong>Jovi</strong> bernyanyi “we’re just bones”, vokal keroyokan menyeruak dan reff melebar seketika. Menjelang akhir semuanya surut, menyisakan dengung gitar yang menggantung sebentar di udara. Dari sana <em>Hermit</em> mengambil alih dengan permainan gitar yang lebih intim sebelum band masuk penuh, sambungan yang membuat kita lupa sedang berganti lagu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pilihan spesial saya jatuh pada <em>Outcast</em>, nomor paling ngebut di paruh awal. Progresi akor pembukanya seolah sengaja diracik untuk lingkaran mosh, drumnya kering dan menghukum, dan <strong>Jovi</strong> berteriak ritmis seperti ikut jadi instrumen tambahan. Ia pendek, padat, dan tidak memberi celah untuk bosan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Lazy Daze</em> mengendurkan ikat pinggang. Gitarnya berdenting santai, groove-nya lurus, dan <strong>Jovi</strong> bernyanyi di nada tengah seperti sedang ngobrol di teras. Lalu di <em>Shame</em> ia mengaku tanpa beban, “I’m so ashamed, I got no brain”, dan kita tidak tahu harus mengangguk atau tertawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Night Time Is My Time</em> menutup album dengan riff berat, sekilas seperti <strong>Black Sabbath</strong> yang kebanyakan begadang, plus lirik tentang manisnya rasa terpentin. Bumbu paling ganjil di seluruh racikan. Di ujungnya, gitar dibiarkan berdenging lalu tenggelam ke ruang gelap yang lapang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Video musik <em>Dead Rockstars</em> ia sunting sendiri. Potongan arsip ikon-ikon <a href="https://parapop.net/tag/grunge/">grunge</a> yang sudah tiada dijahit dengan rekaman penampilannya, seperti orang yang mencoba menembus layar berisik untuk menyapa hantu-hantu masa lalu. Murah, DIY, dan pas betul dengan lagunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mau mencari celah, racikan <em>Unpopular</em> memang setia pada resep yang sama dari lagu ke lagu, dan <em>Lazy Daze</em> memilih mengalir lurus alih-alih memuncak. Tapi justru di situ enaknya. <strong>Jovi</strong> tahu persis bumbu apa yang ia punya, dan ia tidak merasa perlu menabur bumbu lain hanya supaya terlihat sibuk di dapur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kurangi kopinya, mas <strong>Jovi</strong>. Eh, jangan deh. Biar kita saja yang mentraktir kopinya, langsung lewat Bandcamp, tanpa dipotong platform streaming yang royaltinya cuma cukup buat beli sedotan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Album <em>Unpopular</em> milik <strong>Jovi Skyler</strong> rilis 25 September 2026 secara independen dan bisa dibeli langsung di : </p>



<iframe loading="lazy" style="border: 0; width: 100%; height: 472px;" src="https://bandcamp.com/EmbeddedPlayer/album=167514340/size=large/bgcol=ffffff/linkcol=0687f5/artwork=small/transparent=true/" seamless><a href="https://joviskyler.bandcamp.com/album/unpopular" rel="nofollow noopener" target="_blank">Unpopular by Jovi Skyler</a></iframe>



<h2 class="wp-block-heading">Daftar lagu album <strong>Jovi Skyler</strong> <em>Unpopular</em>:</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Dead Rockstars</li>



<li>Hermit</li>



<li>Outcast</li>



<li>Breakdown</li>



<li>Lazy Daze</li>



<li>Edie Sedgwick</li>



<li>Anarchy in the Cellophane</li>



<li>Shame</li>



<li>Get Around</li>



<li>Night Time Is My Time</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Jovi Skyler Profile </h2>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.instagram.com/joviskylerpunkrocker/" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.instagram.com</a></li>



<li><a href="https://www.facebook.com/joviskylermusic/" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.facebook.com</a></li>



<li><a href="https://open.spotify.com/artist/0Y1D9UVorlSvpN0fMROBkV" rel="nofollow noopener" target="_blank">open.spotify.com</a></li>



<li><a href="https://joviskyler.bandcamp.com/" rel="nofollow noopener" target="_blank">joviskyler.bandcamp.com</a></li>



<li><a href="https://www.youtube.com/@joviskylermusic" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.youtube.com</a></li>
</ul>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi penikmat nomor alternatif dengan letupan distorsi tajam dan energi yang tak kalah menggigit, simak ulasan <a href="https://parapop.net/mossrose-cautious-driver/"><strong>Mossrose – Cautious driver</strong></a> serta ulasan album <a href="https://parapop.net/sea-lions-pulang-lewat-another-pop-music-album-kedua-sejak-2011/"><strong>Sea Lions Pulang Lewat Another POP! Music</strong></a>.</p>




<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=FsxgNuzCfdpFi6oea&#038;color=9575cd&#038;text=Published+in+partnership+with+SubmitHub" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Lembar demi Lembar Whisper In The Wind Milik The Como Brothers</title>
<link>https://parapop.net/lembar-demi-lembar-whisper-in-the-wind-milik-the-como-brothers/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2026 14:12:11 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Indie Pop]]></category>
<category><![CDATA[indie rock]]></category>
<category><![CDATA[The Como Brothers]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=34089</guid>
<description><![CDATA[Ada album yang terasa seperti album foto keluarga yang lupa disusun menurut tanggal. Lamaran muncul sesudah pesta pernikahan, cinta monyet terselip di halaman-halaman akhir, dan tepat di tengahnya terpasang selembar foto lama milik seorang paman. Album foto itu milik The Como Brothers, duo bersaudara Andrew dan Matt Como dari Long Island, New York. Dua puluh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Whisper In The Wind" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/4MyeASPAXAf5j1ONTtEhbV?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ada album yang terasa seperti album foto keluarga yang lupa disusun menurut tanggal. Lamaran muncul sesudah pesta pernikahan, cinta monyet terselip di halaman-halaman akhir, dan tepat di tengahnya terpasang selembar foto lama milik seorang paman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Album foto itu milik <strong><a href="https://parapop.net/tag/the-como-brothers/" data-type="post_tag" data-id="2100">The Como Brothers</a></strong>, duo bersaudara Andrew dan Matt Como dari Long Island, New York. Dua puluh tahun mereka manggung di mana saja yang mau menerima, ratusan kali dalam setahun, hingga akhirnya masuk tiga besar finalis kompetisi American Songwriter Road Ready.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Whisper In The Wind</em> memuat tujuh belas lagu, dan mereka sendiri menyebutnya kumpulan gaya yang berbeda-beda, dari pop-rock, sentuhan country, folk, sampai pop retro yang bertumpu pada harmoni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Halaman pertama dibuka <em>Halo or Wings</em>, gubahan bersama <strong>Joe Ragosta</strong>, penulis lagu di balik <em>Need A Favor</em> milik <strong>Jelly Roll</strong>. Petikan gitar akustik dan raungan lembut gitar elektrik bergerak di tempo sedang sebelum reff-nya membubung. Tapi yang membuat kepala mengangguk adalah idenya. &#8220;Well this old King James, must be missing a page&#8221;, nyanyi mereka, karena perempuan secantik itu mustahil tidak disebut di kitab suci. Satu konsep, satu belokan, dan ia sudah selesai sebelum genap tiga menit. Begitulah cara Nashville meracik lagu, dan dua bersaudara ini jelas sudah belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu album dibalik cepat. <em>You Remind Me</em> menyambar dengan dentuman drum dan gitar yang renyah, membawa kita ke Port Jefferson, kota pelabuhan tempat mereka tumbuh, lengkap dengan kaset mixtape berisi <strong>Jimmy Eat World</strong>. <em>I Don&#8217;t Like You</em> adalah foto masa kuliah yang bikin geli, ditulis Matt di kamar asrama sekitar 2010 dengan lirik ketus-ala-anak-asrama. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Somewhere In This Cup</em>, kolaborasi pertama mereka dengan <strong>Sam Woolf</strong> di album ini, dibuka dengan seorang pemuda yang mencari keberanian di dasar gelas untuk menyapa gadis di seberang bar. Satu bait kemudian, tanpa permisi, mereka sudah menikah dan punya tiga anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto berikutnya adalah undangan pernikahan. <em>Forever Plus One</em> lahir ketika Andrew (maksudnya, istrinya) sedang mengirim undangan dan melihat kotak &#8220;plus one&#8221; di kartu balasan. Ide sekecil itu dimasak dengan telaten sampai jadi reff &#8220;I could dance with you forever but forever ain&#8217;t good enough&#8221;. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Living In This Moment</em> kemudian digeber dengan gitar elektrik besar dan drum ala rock klasik, buah dari menonton dokumenter <em>Get Back</em> milik <strong>The Beatles</strong> dan <em>Life With You</em> versi akustik menutup babak ini sebagai lagu dansa pertama Andrew di hari pernikahannya bulan April.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Babak pertama berakhir di lantai dansa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tepat di halaman tengah, trek kesembilan dari tujuh belas, terselip foto paling tua. <em>All I Want Is You</em> bukan tulisan mereka. Lagu ini digubah Paman Lawrence untuk bandnya, <strong>The Words</strong>, di akhir 70-an, dengan ayah mereka duduk di balik drum. Waktu kecil, Andrew dan Matt mengira <strong>The Words</strong> adalah bintang dunia. Sang paman berpulang pada 2023 di usia 62, dan versi baru ini diberi band penuh plus solo saksofon dari <strong>Bob Reynolds</strong>, peraih Grammy yang pernah bermain untuk <strong>John Mayer</strong>. Liriknya jenaka, tentang menelepon gebetan tapi malah kakaknya yang mengangkat. Ada kehangatan yang tidak bisa dibuat-buat di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sekitarnya ada <em>Make My Heart Move</em>, lagu panggung andalan mereka yang kini diberi cerita baru tentang seorang prajurit yang rindu pulang. Ada juga <em>Your Baby I&#8217;ll Be</em>, lagu untuk ibu yang diam-diam paling cerdik di album ini. Baitnya dinyanyikan dari mulut sang ibu yang meninabobokan bayinya, sedangkan reff-nya dijawab si anak yang sudah dewasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Wanna Be</em> dan <em>The Ride</em> adalah dua foto dari orang yang sama, berjarak dua puluh tahun. Yang pertama memotret bocah di kamar yang bermimpi melihat namanya terpampang di lampu panggung. Yang kedua menjawabnya dari sebuah bar sepi. &#8220;Bartender said tonight&#8217;s gonna be dead&#8221;, dan si bartender pula satu-satunya penonton malam itu. Kalau ibu-ibu di sini biasanya mendoakan anaknya lolos CPNS, ibu keluarga Como justru menjanjikan lampu panggung, sementara sang ayah tetap datang ke bar-bar kosong itu dan ikut bernyanyi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>One &amp; Only</em> lewat sebagai lagu lama yang akhirnya direkam sesuai bayangan mereka, walau liriknya tak meninggalkan banyak bekas. Lalu tibalah <em>Whisper In The Wind</em>, trek judul sekaligus kolaborasi kedua dengan <strong>Sam Woolf</strong>. Matt baru menyanyikan dua kata pertama ketika Andrew dan Sam langsung menyambar dengan harmoni kedua dan ketiga. Tiga suara itulah jantung lagunya, menyanyikan nasihat sang ayah soal tetap tersenyum dan mengikat tali sepatu sendiri. Sederhana, dan bulu kuduk tetap bergetar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjelang akhir, album foto ini mulai terasa tebal. <em>Magic</em> berkilau dengan dan ketukan ala pop 80-an, tapi lirik cinta monyetnya generik. Padahal Paman Lawrence yakin betul lagu ini, juga <em>I Don&#8217;t Like You</em>, bakal jadi hits. <em>Will You Marry Me?</em>, yang dinyanyikan Andrew di malam ia melamar, tulus tapi lurus-lurus saja. Lembaran-lembaran ini kita balik lebih cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Halaman terakhir kembali ke <em>Life With You</em>, kali ini dengan gitar yang berkilau di atas petikan akustik. Lagunya sama dengan yang tadi dipakai berdansa. Hanya saja pestanya sudah usai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Album foto ini memang tidak tersusun rapi. Tapi dua puluh tahun bernyanyi untuk bartender ternyata cukup bagi <strong>The Como Brothers</strong> untuk mengisi setiap lembarnya dengan orang-orang yang tetap datang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Daftar lagu album <strong>The Como Brothers</strong> <em>Whisper In The Wind</em>:</h2>



<ol class="wp-block-list">
<li>Halo or Wings (2:28)</li>



<li>You Remind Me (3:05)</li>



<li>I Don&#8217;t Like You (2:53)</li>



<li>Somewhere In This Cup (2:41)</li>



<li>Forever Plus One (3:00)</li>



<li>Living In This Moment (3:23)</li>



<li>Life With You (Acoustic) (2:50)</li>



<li>Make My Heart Move (2:41)</li>



<li>All I Want Is You (2:37)</li>



<li>Your Baby I&#8217;ll Be (3:03)</li>



<li>Wanna Be (3:02)</li>



<li>The Ride (3:04)</li>



<li>One &amp; Only (2:35)</li>



<li>Whisper In The Wind (2:18)</li>



<li>Magic (2:49)</li>



<li>Will You Marry Me? (3:11)</li>



<li>Life With You (2:44)</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">The Como Brothers Profile</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="http://www.comobrothersband.com/" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.com</a></li>



<li><a href="https://soundcloud.com/comobrothers" rel="nofollow noopener" target="_blank">soundcloud.com</a></li>



<li><a href="https://www.youtube.com/user/ComoBrothersBand" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.youtube.com</a></li>



<li><a href="https://twitter.com/ComoBrosBand" rel="nofollow noopener" target="_blank">twitter.com</a></li>



<li><a href="https://www.facebook.com/TheComoBrothers/" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.facebook.com</a></li>



<li><a href="https://www.instagram.com/como.brothers/" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.instagram.com</a></li>
</ul>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=AizRQZdLANWNMZ7sz&#038;color=9575cd&#038;text=Published+in+partnership+with+SubmitHub" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Sylva Faye Membawa Lima Retakan di CRACKED, dan Semuanya Disengaja</title>
<link>https://parapop.net/sylva-faye-membawa-lima-retakan-di-cracked-dan-semuanya-disengaja/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 13:42:52 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Alt Pop]]></category>
<category><![CDATA[Electro Pop]]></category>
<category><![CDATA[Indie Folk]]></category>
<category><![CDATA[Indie Pop]]></category>
<category><![CDATA[Sylva Faye]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=33230</guid>
<description><![CDATA[Saya biasanya skeptis dengan EP yang mencoba memasukkan terlalu banyak genre sekaligus. Hyperpop, alt pop, indie folk, dan folk tradisional dalam lima lagu? Kedengarannya seperti resep untuk kekacauan. Tapi Sylva, musisi London yang menggarap EP ini sambil memainkan delapan instrumen sendiri, entah bagaimana berhasil membuat perjalanan itu terasa masuk akal. EP ini bergerak dari ujung…]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: CRACKED" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/7lvcNZUFvKTpcpMxIsp8le?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saya biasanya skeptis dengan EP yang mencoba memasukkan terlalu banyak genre sekaligus. Hyperpop, alt pop, indie folk, dan folk tradisional dalam lima lagu? Kedengarannya seperti resep untuk kekacauan. Tapi <strong>Sylva</strong>, musisi London yang menggarap EP ini sambil memainkan delapan instrumen sendiri, entah bagaimana berhasil membuat perjalanan itu terasa masuk akal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">EP ini bergerak dari ujung paling bising ke ujung paling sunyi. Dua trek pertama,&nbsp;<em>&#8220;WRAITHSONG&#8221;</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>&#8220;Free (P34CH20)&#8221;</em>, hidup di wilayah synth yang berkilau dan ketukan digital yang padat.&nbsp;<em>&#8220;Cracked&#8221;</em>&nbsp;menjadi jembatan, tempat elektronik dan akustik bertemu sebentar sebelum berpisah. Dan di dua trek terakhir,&nbsp;<em>&#8220;Blooms&#8221;</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>&#8220;LHF.&#8221;</em>,&nbsp;<strong>Sylva</strong>&nbsp;pulang ke rumah folk-nya, dengan gitar akustik dan cello&nbsp;<strong>Dave Dhonau</strong>&nbsp;yang mengisi kekosongan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lirik di paruh awal EP terasa seperti seseorang yang sedang mengetik pesan panjang tengah malam lalu menghapusnya lagi.&nbsp;<em>&#8220;Do you remember what feeling good feels like&#8221;</em>, tanya&nbsp;<strong>Sylva</strong>&nbsp;di&nbsp;<em>&#8220;WRAITHSONG&#8221;</em>&nbsp;dengan nada yang lebih capek daripada sedih. Di&nbsp;<em>&#8220;Free&#8221;</em>, dia menulis&nbsp;<em>&#8220;I stay up all night reading texts from dead friends&#8221;</em>, dan kalimat itu memukul tanpa peringatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;Cracked&#8221;</em>&nbsp;sendiri menjadi momen paling liar.&nbsp;<em>&#8220;Such beauty in the depth of the bruise&#8221;</em>, tulisnya, dan baris itu mungkin merangkum seluruh proyek ini. Ada keindahan yang ditemukan justru di tempat yang lebam. Ketika dia menyanyikan&nbsp;<em>&#8220;Living near you is like purgatory&#8221;</em>, amarahnya tidak meledak, tapi mengalir pelan seperti air yang merembes dari retakan di dinding.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di&nbsp;<em>&#8220;Blooms&#8221;</em>, EP mulai melambat dan bernapas.&nbsp;<em>&#8220;Life never gives me fruit / It gives me salt and honey from Positano&#8221;</em>, dan ada humor pahit yang khas di situ. Lalu&nbsp;<em>&#8220;LHF.&#8221;</em>&nbsp;menutup semuanya dengan cello dan vokal yang nyaris telanjang.&nbsp;<em>&#8220;I&#8217;ll do the tough stuff so you don&#8217;t have to&#8221;</em>, nyanyinya untuk orang-orang yang sudah pergi. Baris itu sederhana. Beratnya tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sylva</strong>&nbsp;menulis EP ini selama setahun penuh di tengah kehilangan dan pergulatan melawan ketidakadilan yang menimpanya. Tepat saat EP ini dirilis, kebohongan yang sempat membelenggunya terbukti salah. Konteks itu tidak perlu kamu tahu untuk menikmati musiknya, tapi begitu kamu tahu, setiap nada terdengar berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan instrumen. Lima genre. Yang tertinggal di telinga justru satu pertanyaan sederhana dari trek pertama yang terus berputar di kepala. <em>&#8220;Do you remember what feeling good feels like?&#8221;</em> Saya belum bisa menjawab. Tapi setidaknya sekarang ada musiknya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sylva Faye &#8211; CRACKED EP Cover Album</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="640" height="640" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2026/09/Sylva-Faye-Cracked.jpg" alt="Ulasan lagu Sylva Faye Membawa Lima Retakan di CRACKED, dan Semuanya Disengaja - ParaPOP" class="wp-image-33231" title=""></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Sylva Faye &#8211; CRACKED EP Tracklist</h2>



<ol class="wp-block-list">
<li>WRAITHSONG (4:00)</li>



<li>Free (P34CH20) (2:40)</li>



<li>Cracked (2:30)</li>



<li>Blooms (2:52)</li>



<li>LHF. (4:08)</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Sylva Faye Profile </h2>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.instagram.com/sylvafaye/?hl=en-gb" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.instagram.com</a></li>



<li><a href="https://www.tiktok.com/@sylvafaye" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.tiktok.com</a></li>
</ul>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=3nahxpaS4CadoiAiC&#038;color=9575cd&#038;text=Published+in+partnership+with+SubmitHub" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga Ulasan Pilihan:</strong> Baca ulasan album kembali penuh cerita di <a href="https://parapop.net/sea-lions-pulang-lewat-another-pop-music-album-kedua-sejak-2011/"><strong>Sea Lions Pulang Lewat Another POP! Music</strong></a> serta pesona alt pop elegan di <a href="https://parapop.net/shelita-open-to-you/"><strong>Shelita – Open To You</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Rumour Menghidupkan Kembali Kenangan dalam Limerence EP</title>
<link>https://parapop.net/rumour-menghidupkan-kembali-kenangan-dalam-limerence-ep/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 06:56:20 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Indie Pop]]></category>
<category><![CDATA[indie rock]]></category>
<category><![CDATA[Rumour]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=32863</guid>
<description><![CDATA[[Album EMBEDDED] Rumour membuka EP terbarunya, Limerence, dengan lima lagu yang bergerak seperti percakapan panjang tentang jatuh cinta, kehilangan arah, lalu perlahan menerima. Kalau ditelusuri urutannya, ada perjalanan yang cukup jelas, dari ketertarikan yang belum jelas statusnya, lewat kenangan yang mulai terasa jauh, sampai ke titik damai yang datang pelan pelan menjelang akhir. “Something Again”]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">[Album EMBEDDED] </p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-soundcloud wp-block-embed-soundcloud wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Limerence by SpacedOut Studios Entertainment" width="500" height="450" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay; encrypted-media" src="https://w.soundcloud.com/player/?visual=true&#038;url=https%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Fplaylists%2F2272504949&#038;show_artwork=true&#038;maxheight=750&#038;maxwidth=500&#038;secret_token=s-0sLRcYY3oIm"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rumour</strong> membuka EP terbarunya, <em>Limerence</em>, dengan lima lagu yang bergerak seperti percakapan panjang tentang jatuh cinta, kehilangan arah, lalu perlahan menerima. Kalau ditelusuri urutannya, ada perjalanan yang cukup jelas, dari ketertarikan yang belum jelas statusnya, lewat kenangan yang mulai terasa jauh, sampai ke titik damai yang datang pelan pelan menjelang akhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;Something Again&#8221;</em> jadi pembuka yang pas karena langsung melempar pendengar ke tengah tarik ulur yang bikin gelisah. Nada minor dan tempo yang cukup cepat membuat suasananya tegang sejak awal, cocok dengan isi liriknya yang bicara soal ketertarikan pada orang yang sudah punya pasangan. <em>&#8220;You know I hate it when we act like we&#8217;re just friends&#8221;</em> menangkap rasa frustrasi itu dengan pas, seolah dua orang sama sama tahu ada sesuatu yang terjadi tapi memilih pura pura tidak sadar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu masuk <em>&#8220;Summer Nights&#8221;</em>, jeda dari ketegangan itu lewat rasa hangat yang datang dari kenangan. Kalau lagu pembuka bicara tentang sekarang, lagu ini justru menoleh ke belakang, ke musim panas masa muda yang dulu terasa tidak akan pernah habis. Cerita soal pregame sebelum keluar rumah dan janji tidak minum banyak yang selalu gagal ditepati ditulis apa adanya, dan baris <em>&#8220;Young enough to think that nights like this would never stop&#8221;</em> jadi pengingat kecil bahwa semua rasa itu memang ada batasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketertarikan di awal EP kemudian berubah jadi penyesalan lewat <em>&#8220;I Adore You&#8221;</em>. Di sini nadanya berubah ke mayor, tapi isinya justru lebih berat, tentang seseorang yang sadar sering menyakiti orang yang mencoba bertahan untuknya. <em>&#8220;I lost my way, and you took my hand&#8221;</em> terdengar seperti permintaan maaf yang datang terlambat, ditulis lebih untuk menenangkan diri sendiri daripada benar benar berharap dimaafkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua lagu terakhir, <em>&#8220;Never Really&#8221;</em> dan <em>&#8220;Lullabye&#8221;</em>, membawa EP ini menuju bagian paling tenang. Kalau tiga lagu sebelumnya masih sibuk dengan rasa ingin dan menyesal, dua lagu penutup ini mengarah ke penerimaan, ke proses melepaskan yang tidak selalu terasa seperti kalah. Tanpa lirik lengkap untuk membahas detailnya, cukup terasa dari posisinya di penghujung cerita bahwa <strong>Rumour</strong> sengaja menyisakan ruang untuk pemulihan, bukan penyelesaian yang buru buru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat <em>Limerence</em> enak diikuti bukan karena setiap lagu punya twist besar, tapi karena emosinya berjalan wajar, dari gelisah ke rindu, dari menyesal ke akhirnya bisa bernapas lagi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lima lagu, delapan belas menit, cukup singkat untuk didengar sekali duduk, tapi cukup jujur untuk bikin sebagian orang merasa sedang dengar rekaman diary orang lain yang kebetulan mirip punya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk informasi lebih lengkap dan silakan cek <a href="https://nfan.link/limerence" rel="nofollow noopener" target="_blank">nfan.link/limerence</a> , album ini akan rilis pada 28 Agustus 2026.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Rumour &#8211; Limerence EP Cover Album</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2026/08/limerence-ne3y0ec-1-1024x1024.jpg" alt="Rumour - Limerence EP cover" class="wp-image-32875" title=""></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Rumour &#8211; Limerence EP <strong>Tracklist</strong> </h2>



<ol class="wp-block-list">
<li>Something Again </li>



<li>Summer Nights </li>



<li>I Adore You </li>



<li>Never Really </li>



<li>Lullabye</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Rumour Profile  </h2>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.facebook.com/Rumourhadit" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.facebook.com</a></li>



<li><a href="https://www.instagram.com/rumourt7/" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.instagram.com</a></li>



<li><a href="https://www.youtube.com/channel/UCaHkpvQuWAG35Q65_WFxScg" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.youtube.com</a></li>



<li><a href="https://www.tiktok.com/@rumourt7" rel="nofollow noopener" target="_blank">www.tiktok.com</a></li>
</ul>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=MGCDfh4zSCfEeHHAt&#038;color=9575cd&#038;text=Published+in+partnership+with+SubmitHub" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Claire Tonna – HELD EP: Pelukan untuk Hati yang Lelah</title>
<link>https://parapop.net/claire-tonna-held-ep-pelukan-untuk-hati-yang-lelah/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Sun, 16 Feb 2025 13:26:55 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Music]]></category>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[New Releases]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=30128</guid>
<description><![CDATA[Pernah nggak sih merasa dunia terlalu berat, seakan-akan kita berdiri sendirian di tengah hujan deras tanpa tempat berteduh? Nah, ‘HELD EP’ dari Claire Tonna adalah payung yang mungkin nggak bisa menghentikan badai, tapi cukup untuk bikin lo bertahan dan tetap hangat. EP ini cuma punya tiga lagu, tapi tiap lagu terasa seperti bab dalam buku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pernah nggak sih merasa dunia terlalu berat, seakan-akan kita berdiri sendirian di tengah hujan deras tanpa tempat berteduh? Nah, &#8216;HELD EP&#8217; dari Claire Tonna adalah payung yang mungkin nggak bisa menghentikan badai, tapi cukup untuk bikin lo bertahan dan tetap hangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">EP ini cuma punya tiga lagu, tapi tiap lagu terasa seperti bab dalam buku harian seseorang yang pernah ada di titik terendah, nyaris menyerah, tapi akhirnya memilih bertahan. Ini adalah suara bagi mereka yang pernah merasa sendirian, sebuah pengingat bahwa kita nggak benar-benar sendiri.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Held EP" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/2nuFhD5omLf3WU9T1jicVb?si=QJkCANVNQLG5gj3mCmqrBw&#038;nd=1&#038;dlsi=529138d102f442b1&#038;utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Semua ini dimulai dari &#8220;Held&#8221; dengan vokal yang berat dan ketukan yang ramah, lagu ini seperti genggaman tangan di saat kita merasa jatuh. Ditulis dari pengalaman Claire sendiri yang berupa surat perpisahan sebelum akhirnya mengubahnya menjadi lagu, &#8220;Held&#8221; punya lirik yang menyayat tapi juga memberi harapan.</p>



<ol class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;Hold on to this heartbeat (Held), Hold on to this song, We are held.&#8221;</em> &#8211; Held</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melodinya seperti bisikan lembut, membangun rasa kehangatan yang semakin lama semakin menguat. Lagu ini seperti teman yang duduk diam di samping saat kita butuh seseorang, tanpa harus berkata apa-apa, cukup hadir dan menemani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau &#8220;Held&#8221; terasa seperti pelukan, &#8220;Awake&#8221; adalah tamparan lembut yang mengingatkan kita untuk bangun dari dunia yang semakin serakah. Lagu ini seperti seseorang yang berdiri di tengah keramaian, melihat semua orang berlomba-lomba mengejar uang, status, dan kekuasaan, lalu bertanya: Apa semua ini benar-benar penting?</p>



<ol start="2" class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;No currency will fill my hole, No currency will wet my soul.&#8221;</em> &#8211; AWAKE</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aransemen lagunya punya vibe old-school, kayak lagu-lagu 80-an yang membawa hook yang memikat, Lagu ini ngajarin kita buat lebih sadar, lebih awake, dan nggak gampang terbawa arus dunia yang kadang bikin kita lupa siapa diri kita sebenarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">EP 3 lagu ini ditutup dengan &#8220;A Women I Love&#8221; namun Lagu ini bukan soal mencintai orang lain, tapi soal melihat diri sendiri di cermin dan akhirnya berkata, &#8220;Gue cinta sama lo.&#8221; Sesederhana itu, tapi seberat itu juga.</p>



<ol start="3" class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;I love the lines on her face, The way she lusts with trust, The woman I love, Battled with and battled for.&#8221;</em> &#8211; A Women I Love</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu ini seperti percakapan batin seseorang yang akhirnya bisa menerima segala luka, ketakutan, dan perjalanan panjang yang sudah dia lewati. Vibenya terasa kayak lagu balada cinta tahun 70-an yang pada lagu ini membawa sapuan vokal yang lebih lembut dan terasa intim membawa getaran yang akan menyentuh semua pendengarnya. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Claire Tonna &#8216;HELP EP&#8217; Album Cover </h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2025/02/beb05372-8256-4a66-9c41-eb156b9099a0-1739340364856-1024x1024.jpeg" alt="Claire Tonna - HELD EP: Pelukan untuk Hati yang Lelah" class="wp-image-30129" title=""><figcaption class="wp-element-caption">Claire Tonna &#8211; HELD EP: Pelukan untuk Hati yang Lelah</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><br>HELD EP rasanya akan jadi musik yang akan kamu putar di malam panjang saat pikiran ini penuh, di pagi hari saat butuh energi untuk bertahan, atau di saat-saat kita butuh diingatkan bahwa kamu nggak sendirian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan hanya tiga lagu, Claire Tonna membawa perjalanan, ini adalah pelukan, ini adalah suara dari mereka yang pernah nyaris menyerah tapi memilih untuk tetap bertahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tracklist &#8211; Claire Tonna HELD EP (2025)</h2>



<ol class="wp-block-list">
<li>Held</li>



<li>Awake</li>



<li>A Women I Love</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Claire Tonna Profile </h2>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://open.spotify.com/artist/5sMEwi6GSsJ68MtrJq4kB6?si=D2oRUwGMRbeS5h6jY4LTqA" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">open.spotify.com</a></li>



<li><a href="https://www.instagram.com/claire_tonna?igsh=ZmZpbzl4c3hqMzg%3D&#038;utm_source=qr" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">www.instagram.com</a></li>



<li><a href="https://www.facebook.com/share/19tngpenSv/?mibextid=wwXIfr" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">www.facebook.com</a></li>



<li><a href="https://www.presskitclairetonna.com/" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">www.presskitclairetonna.com</a></li>
</ul>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=ZjQzNDQyKQ6eeTFvP&#038;color=9575cd" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menambah perbendaharaan musik alternatifmu pekan ini, luangkan waktu menyimak ulasan <a href="https://parapop.net/rainbow-city-park-epfruitless-melodi-yang-indah-untuk-luka-yang-belum-sembuh/"><strong>Rainbow City Park EP&#8217;Fruitless&#8217; : Melodi yang Indah untuk Luka yang Belum Sembuh</strong></a> serta arsip ulasan <a href="https://parapop.net/prep-cover-as-it-was-milik-harry-styles/"><strong>PREP Cover “As It Was” Milik Harry Styles</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Rainbow City Park EP’Fruitless’ : Melodi yang Indah untuk Luka yang Belum Sembuh</title>
<link>https://parapop.net/rainbow-city-park-epfruitless-melodi-yang-indah-untuk-luka-yang-belum-sembuh/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Thu, 06 Feb 2025 09:07:51 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Music]]></category>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[New Releases]]></category>
<category><![CDATA[Alternative Rock]]></category>
<category><![CDATA[indie rock]]></category>
<category><![CDATA[Rainbow City Park]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=29997</guid>
<description><![CDATA[Ada momen ketika musik bukan sekadar hiburan, tapi cermin dari kekacauan batin yang kita coba abaikan. Rainbow City Park (RCP) mengerti hal itu dengan sangat baik, dan mereka menuangkannya ke dalam Fruitless, EP debut yang terasa seperti perjalanan emosional yang kabur dan kadang penuh penyesalan, kadang marah, tapi tetap indah dalam caranya sendiri. Kita telah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ada momen ketika musik bukan sekadar hiburan, tapi cermin dari kekacauan batin yang kita coba abaikan. <a href="https://parapop.net/tag/rainbow-city-park/" data-type="post_tag" data-id="5022">Rainbow City Park</a> (RCP) mengerti hal itu dengan sangat baik, dan mereka menuangkannya ke dalam Fruitless, EP debut yang terasa seperti perjalanan emosional yang kabur dan kadang penuh penyesalan, kadang marah, tapi tetap indah dalam caranya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita telah Rainbow City lewat beberapa singlenya seperti &#8220;<a href="https://parapop.net/rainbow-city-park-complicate-this/">Complicate This</a>&#8220;, &#8220;<a href="https://parapop.net/rainbow-city-park-overgrown/">Overgrown</a>&#8221; dan salah satu single dari album ini &#8220;<a href="https://parapop.net/rainbow-city-park-fruitless/">Fruitless</a>&#8221; dan debut EP ini membawa lima lagu yang menggambarkan berbagai sisi indie rock, mulai dari shoegaze melankolis hingga pop-rock yang menggigit.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Fruitless" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/5FKsYV2vgbg3NPw85Yzd6O?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya single pembukan EP ini &#8220;<a href="https://parapop.net/rainbow-city-park-fruitless/">Fruitless</a>&#8221; ini langsung membawa kita ke dunia RCP yang berlapis-lapis. Dengan gitar yang menggigit dan ritme drum yang terus mendorong maju, &#8220;Fruitless&#8221; adalah perpaduan antara keindahan dan kehancuran.</p>



<ol class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Liriknya seperti renungan seseorang yang merasa sudah memberikan segalanya, tapi tetap nggak cukup:<br><em>&#8220;I’ve been giving this all I’ve got, But it never seems to be enough.&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah lagu buat siapa saja yang pernah merasa kelelahan dalam perjuangan yang nggak berujung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berlanjut single &#8220;Chalk&#8221; yang dengan halus membawa kisah cinta dan dibandingkan dengan atmosfer dreamy dari &#8220;Fruitless&#8221; single membawa alunan vokal yang lebih tenang dengan emosi naik turun dengan ranah indie rock yang melodis. </p>



<ol start="2" class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;23 months of flattery, with moments that could fill galleries, Imagine none of that mattering.&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bait pertama terasa seperti memutar ulang kenangan indah, tapi kemudian lagu ini berubah menjadi teriakan kemarahan yang ditahan. Dan akhirnya, ada kesadaran pahit:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;At least you taught me something that is worth it, He who hesitates gets deserted.&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah pengingat bahwa menunda keputusan hanya akan membuat kita tertinggal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedang pada single &#8220;Provincial&#8221; lagu yang pada awalnya terdengar lebih ringan dan mendayu namun membawa buildup yang komplek dengan melodi yang melilit dan sapuan yang lebih padat namun tetap memiliki bobot emosional yang dalam. Ada perasaan tersesat di dalamnya, sebuah pertempuran batin antara ingin maju tapi merasa tertahan.</p>



<ol start="3" class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;Is the voice inside my head my own? Or do I vomit words already wrote?&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau lagu ini terasa paling rumit dalam EP ini, dengan aransemen yang terasa lebih mentah dan suara gitar yang lebih berantakan, tapi tetap dikontrol dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beranjak pada &#8220;Foresight&#8221; single yang lebih ringan yang berbicara tentang mati rasa dan kebiasaan menekan emosi sendiri. Ada perasaan pasrah dalam liriknya:</p>



<ol start="5" class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;I don’t know why I can’t feel emotions right, Everything’s been in black and white.&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi di bagian akhir, ada momen refleksi yang menunjukkan bahwa mungkin, hanya mungkin, rasa sakit itu perlu dihadapi agar bisa benar-benar hilang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;Reopen the pit, ‘Cause it won’t mend unless you face it.&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah lagu yang penuh dengan kesadaran diri dan mungkin juga peringatan bagi siapa saja yang terus mencoba melarikan diri dari kenyataan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">EP ini ditutup dengan &#8220;Water Under The Bridge&#8221; yang menghadirkan atmosfer yang lebih intim. Dibangun dengan gitar akustik dan piano yang samar, lagu ini terasa seperti renungan larut malam seseorang yang mencoba mencari titik akhir dari sesuatu yang terus menghantuinya.</p>



<ol start="4" class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;When do I get to call this water under the bridge?&#8221;</em> </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban. Lagu ini nggak menawarkan solusi, tapi justru membiarkan pendengar merasa bahwa beberapa luka memang nggak bisa sembuh dalam semalam.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Rainbow City Park EP &#8216;Fruitless&#8217; Album Cover</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2025/02/rainbow-city-park-fruitless-ep-cover-1734721932873-1-1024x1024.jpg" alt="Rainbow City Park EP&#039;Fruitless&#039; : Melodi yang Indah untuk Luka yang Belum Sembuh" class="wp-image-29999" title=""><figcaption class="wp-element-caption">Rainbow City Park EP&#8217;Fruitless&#8217; : Melodi yang Indah untuk Luka yang Belum Sembuh</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">&#8216;Fruitless&#8217; bukan EP yang mudah dicerna dalam sekali dengar. Ini adalah koleksi lagu yang membutuhkan waktu untuk benar-benar terasa dengan lagu-lagu yang mungkin akan terdengar biasa saja di awal, tapi lama-lama akan terasa seperti bagian dari kehidupan lo sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rainbow City Park telah menciptakan sesuatu yang lebih dari sekadar EP debut, mereka membawa cerita untuk diceritakan, dan mereka tahu bagaimana cara menyampaikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat kamu yang suka musik yang bisa bikin kamu berpikir, merasa, dan merenung di malam-malam panjang dan masih membawa energi indie rock yang renyah, melodis dengan sapuan vokal yang dalam, Fruitless adalah EP yang wajib masuk playlist. Siap-siap tenggelam dalam gelombang melodi yang indah sekaligus menghantui. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Tracklist &#8211; Rainbow City Park Fruitless (2025)</h2>



<ol class="wp-block-list">
<li>Fruitless </li>



<li>Chalk</li>



<li>Provincial </li>



<li>Water Under The Bridge </li>



<li>Foresight </li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Rainbow City Park Profile</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://open.spotify.com/artist/7qjDEjlOqJXJmpr6eQjmtq" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">open.spotify.com</a><br><a href="https://rainbowcitypark.bandcamp.com/" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">rainbowcitypark.bandcamp.com</a><br><a href="https://www.instagram.com/rainbowcitypark/" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">www.instagram.com</a><br><a href="https://www.facebook.com/RainbowCityParkMusic" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">www.facebook.com</a><br><a href="https://rainbowcitypark.com/" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">rainbowcitypark.com</a></p>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=5Q8qKGedMubQbuypB&#038;color=9575cd" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Energi mentah dan riff gitar berkarakter senada juga mencuat dalam ulasan <a href="https://parapop.net/ricky-montgomery-superfan/"><strong>Ricky Montgomery &#8211; Superfan</strong></a> serta nomor garang di arsip ulasan <a href="https://parapop.net/superserious-my-phone-or-something/"><strong>superserious – My phone or something</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Alex Runo Merilis EP ‘Living &amp; Breathing’ – Sebuah Perjalanan Emosi dalam Lima Babak</title>
<link>https://parapop.net/alex-runo-merilis-ep-living-breathing-sebuah-perjalanan-emosi-dalam-lima-babak/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Mon, 03 Feb 2025 05:25:28 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Music]]></category>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[New Releases]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=29929</guid>
<description><![CDATA[Bayangkan duduk di dalam mobil, hujan turun perlahan di jendela, dan kamu baru aja melewati salah satu hari paling emosional dalam hidup. Ada marah, ada sedih, ada harapan kecil yang masih tersisa. Nah, kalau perasaan itu bisa dijadikan musik, maka ‘Living & Breathing‘ dari Alex Runo adalah soundtrack-nya. EP ini nggak main-main dalam menyajikan spektrum]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan duduk di dalam mobil, hujan turun perlahan di jendela, dan kamu baru aja melewati salah satu hari paling emosional dalam hidup. Ada marah, ada sedih, ada harapan kecil yang masih tersisa. Nah, kalau perasaan itu bisa dijadikan musik, maka &#8216;<em>Living &amp; Breathing</em>&#8216; dari <strong>Alex Runo</strong> adalah soundtrack-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">EP ini nggak main-main dalam menyajikan spektrum emosi yang luas. Alex bercerita dengan membawa beragam rasa dan emosi lewat lima single unggulannya dalam EP ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita mulai perjalanan ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Living &amp; Breathing" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/3dwIGNG0n9dbVQmWiWkgVL?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan ini dibuka dengan <strong>&#8220;No Good Gone&#8221;</strong> lagu yang berat dan penuh perlawanan. Dengan Lirik seperti <em>&#8220;I&#8217;m going back, going under, To fight my demons&#8221;</em> adalah momen di mana seseorang memutuskan untuk melawan. Bukan melarikan diri, bukan menyerah. Tapi masuk kembali ke kegelapan, karena satu-satunya jalan keluar adalah dengan menghadapi semuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Musiknya punya vibe yang kelam, gitar yang melilit tapi ada keteguhan di baliknya dan dengan vokal yang tegar lagu Ini kayak soundtrack buat seseorang yang akhirnya bilang, &#8220;Cukup sudah, gue lawan!&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah amarah, kita masuk ke bab tentang cinta. Tapi bukan cinta yang manis ala film rom-com. <strong>&#8220;Living &amp; Breathing&#8221;</strong> adalah tentang cinta yang kita tahu beracun. Karena meskipun sakit, itu bikin diri ini merasa hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;I know I’m living &amp; breathing when I’m with you.&#8221;</em> &#8211; Living &amp; Breathing</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu kayak pengakuan dosa seseorang yang udah tahu ini nggak akan berakhir baik, tapi tetap nggak bisa lepas. Musiknya pun mencerminkan itu ada kehangatan, ada intensitas, ada sesuatu yang bikin kita tetap terjebak di dalamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>&#8220;Living &amp; Breathing&#8221;</strong> dibawakan dengan piano yang melankolis dan vokal yang terasa lebih dalam dan tenang namun disinilah ketegaran dan rasa hanyut menyatu dengan indahnya.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Cinta itu fragile. Kadang kita berpikir semuanya baik-baik aja, sampai akhirnya sadar bahwa yang ini serpihan kertas yang gampang sobek. <strong>&#8220;Paper Love&#8221;</strong> adalah lagu tentang hubungan yang sekarat, di mana dua orang berusaha keras buat bertahan, padahal mereka udah tahu akhirnya akan hancur juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;I burn it up, you put it out, This paper love, it’s paper love.&#8221;</em> &#8211; Paper Love</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan rasa yang lebih intim dan buildup yang cukup panjang dan dramatis, lagu ini seakan memperdalam emosi yang sudah dibangun pada lagu sebelumnya.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun..</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah jatuh berkali-kali, setelah dihantam rasa sakit, akhirnya ada titik balik. <strong>&#8220;I Am More Than This&#8221;</strong> adalah lagu tentang kesadaran bahwa hidup nggak bisa terus-terusan dihabiskan dengan bertanya<em> &#8220;what if&#8221;.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;I’ve dreamed the dream and I’m ashamed to admit it,, It’s time to go live it.&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah bagian di mana kita akhirnya berdiri, menatap ke depan, dan memutuskan untuk mengambil kendali hidupnya sendiri. Nada musiknya lebih optimis, lebih penuh tekad bersama vokalnya kembali lantang dan musiknya renyah. Ini lagu buat mereka yang udah capek nunggu dan akhirnya bilang, <em>&#8220;Gue pantas dapat yang lebih.&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan akhirnya, kita sampai di penghujung cerita. Tapi bukan ending yang bahagia, juga bukan yang menyedihkan. <strong>&#8220;White Flag&#8221;</strong> adalah tentang menerima kenyataan. Kadang, menyerah bukan berarti kalah. Kadang, melepas adalah satu-satunya cara untuk menang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&#8220;I fly the white flag, I fly the white flag.&#8221;</em> &#8211; White Flag</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengulangan liriknya bikin lagu ini semakin menghantui. kita bisa rasain seseorang yang akhirnya menghela napas panjang, membiarkan semua pergi, dan menerima bahwa beberapa pertempuran memang tidak perlu dimenangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alex Runo lewat EP &#8216;Living &amp; Breathing&#8217; ini membawa musik yang mudah dirasakan dan kisah manusia tentang jatuh, bangkit, tersesat, dan menemukan jalan pulang. Musiknya kaya dengan pengaruh soul, blues, dan rock, tapi tetap punya sentuhan modern yang bikin setiap lagu terasa relevan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">EP ini akan kita dengerin di malam-malam panjang, saat lagi mencari jawaban, atau mungkin cuma butuh ditemani oleh seseorang yang <em>mengerti</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, kalau kamu siap untuk sebuah perjalanan yang penuh dengan luka, harapan, dan akhirnya kelegaan <strong>&#8216;<em>Living &amp; Breathing</em>&#8216;</strong> adalah pintu masuknya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Alex Runo EP &#8216;Living &amp; Breathing&#8217; Album Cover</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2025/02/Artwork-1-1024x1024.jpg" alt="Alex Runo Merilis EP &#039;Living &amp; Breathing&#039; - Sebuah Perjalanan Emosi dalam Lima Babak

" class="wp-image-29930" title=""><figcaption class="wp-element-caption">Alex Runo Merilis EP &#8216;Living &#038; Breathing&#8217; &#8211; Sebuah Perjalanan Emosi dalam Lima Babak

</figcaption></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Tracklist &#8211; Alex Runo <em>Living &amp; Breathing</em> (2025)</strong></h3>



<ol class="wp-block-list">
<li>No Good Gone </li>



<li>Living &amp; Breathing </li>



<li>Paper Love </li>



<li>I Am More Than This </li>



<li>White Flag </li>
</ol>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=KCSEiSjBcAqEeEdyW&#038;color=9575cd" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Eksplorasi kurasi harian kami yang tak kalah memikat bisa kamu temukan dalam ulasan <a href="https://parapop.net/stardust-melancholy-gravitys-hold/"><strong>Stardust Melancholy &#8211; Gravit&#8217;y&#8217;s Hold</strong></a> serta tembang pilihan di arsip <a href="https://parapop.net/hazlett-stolen-seasons/"><strong>Hazlett &#8211; Stolen Seasons</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Tom Abbott – Buried Treasure Lost Forever: Album Penuh Warna yang Mengalun dengan Renyah</title>
<link>https://parapop.net/tom-abbott-buried-treasure-lost-forever-album-penuh-warna-yang-mengalun-dengan-renyah/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Fri, 03 Jan 2025 15:54:37 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Music]]></category>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Folk rock]]></category>
<category><![CDATA[Indie Pop]]></category>
<category><![CDATA[indie rock]]></category>
<category><![CDATA[Tom Abbott]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=29529</guid>
<description><![CDATA[Tom Abbott, baru saya membawa album terbarunya ‘Buried Treasure Lost Forever‘. Sebelum perilisan album ini kita sudah diperkenalkan lewat single “Venn Diagram“, lagu indie pop rock yang ringan namun dengan rasa yang memikat. Kini dengan total 16 lagu yang dirangkai menjadi cerita utuh, Tom mengajak kita menyelami perjalanan emosional tentang kehilangan, harapan, dan menemukan diri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://parapop.net/tag/tom-abbott/" data-type="post_tag" data-id="5149">Tom Abbott</a></strong>, baru saya membawa album terbarunya &#8216;<strong>Buried Treasure Lost Forever</strong>&#8216;. Sebelum perilisan album ini kita sudah diperkenalkan lewat single &#8220;<a href="https://parapop.net/tom-abbott-venn-diagram/" data-type="post" data-id="29296">Venn Diagram</a>&#8220;, lagu indie pop rock yang ringan namun dengan rasa yang memikat. Kini dengan total 16 lagu yang dirangkai menjadi cerita utuh, Tom mengajak kita menyelami perjalanan emosional tentang kehilangan, harapan, dan menemukan diri sendiri di tengah patah hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Album ini terasa seperti soundtrack hidup, dengan keberagaman gaya yang ditawarkan dan semua ini dibungkus dengan permainan gitar Tom yang terasa renyah yang mana setiap petikan dan chord membawa emosi yang pas dengan narasi lagunya. Ditambah karakter vokalnya yang unik dan mentah pada setiap lagu terasa begitu jujur dan menular.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Buried Treasure Lost Forever" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/49QttO5KJr5meZrRCwjXKs?si=jDGm-Uo1Tqi6JqzzRf3xIw&#038;nd=1&#038;dlsi=cddf42c5b516494a&#038;utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Selain &#8220;<a href="https://parapop.net/tom-abbott-venn-diagram/" data-type="post" data-id="29296">Venn Diagram</a>&#8220;, yang sebelumnya sudah pernah kita bahas, pada album ini Tom juga menyuguhkan <em>&#8220;Time (Where You Going)&#8221;</em> yang terasa dalam layaknya sebuah percakapan antara dua hati, di mana Tom bertanya pada seseorang <em>(atau mungkin dirinya sendiri)</em> tentang bagaimana menemukan jalan dalam hidup. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di dalamnya terasi <em>&#8220;Isn&#8217;t This Where We Had Our First Date?&#8221;</em>, lagu yang terasa seperti jeda kecil yang manis. Dengan suasana awal yang romantis, lagu ini membangun atmosfer yang hangat dan nostalgik. Namun, jangan lengah akan ada buildup yang penuh kejutan di tengahnya perlahan membawa rasa yang berbeda dan juga penuh kompleksitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian ada <em>&#8220;In Your Blood&#8221;</em>, salah satu lagu yang terasa paling emosional di album ini. Dalam lagu ini, Tom benar-benar mencurahkan perasaan terdalamnya. Vokalnya terdengar lebih mentah, lebih lepas dengan emosinya tumpah ruah, aransemen lagunya tetap segar dan lugas, memberi keseimbangan yang pas antara intensitas dan kenikmatan mendengarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan tentu saja, ada lagu pamungkas yang menjadi judul album: <em>&#8220;Buried Treasure Lost Forever&#8221;</em>. Lagu ini menyajikan melodi yang memikat, tetapi juga narasi yang sinematik. Liriknya penuh metafora tentang pencarian harta karun, sebuah perumpamaan yang indah untuk hubungan yang akhirnya karam. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun selain itu album ini menghadirkan beberapa track instrumental yang menjadi jeda di antara ceritanya, seperti nafas pendek di tengah perjalanan panjang seperti track <em>&#8220;Isn&#8217;t This Where We Had Our First Date?&#8221;</em> dan &#8220;<em>Why Do I Always Assume The Worst?&#8221;</em>, Kemudian ada alur rock jazz yang lebih mengalir yang pada lagu <em>&#8220;Is This Really How It Ends?&#8221;</em> memberikan energi dan dinamika yang kontras namun terasa seru.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Buried Treasure Lost Forever</strong> dibawakan oleh Tom Abbott yang sepertinya tidak takut mengambil risiko dalam menciptakan lagu yang otentik. Dengan kombinasi lirik yang lugas, melodi yang terasa konstan membawa karakter rasa Tom sendiri lewat permainan gitar yang renyah, album ini menawarkan pengalaman mendalam yang menyenangkan untuk disimak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun album ini pada secara keseluruhan membawa tema patah hati yang kuat tapi musiknya tidak pernah terasa terlalu berat. Sebaliknya, ada rasa ceria, <em>playful </em>dan juga kehangatan yang membuat pendengar ingin mendengarkannya lagi dan lagi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tom Abbott telah memberikan segalanya dalam album ini, dan itu terlihat jelas. Dari folk hingga rock, instrumental hingga jazz, &#8216;<strong>Buried Treasure Lost Forever</strong>&#8216; adalah harta karun yang tidak akan hilang begitu saja di hati para pendengarnya!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Album Cover : Buried Treasure Lost Forever</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2025/01/cover-art-1734982352336-1024x1024.jpg" alt="Album Cover Buried Treasure Lost Forever" class="wp-image-29530" title=""><figcaption class="wp-element-caption">Album Cover Buried Treasure Lost Forever</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Tracklists :  Buried Treasure Lost Forever</h2>



<ol class="wp-block-list">
<li>Another Way</li>



<li>Why Do I Always Assume The Worst?</li>



<li>Nothing Lasts</li>



<li>Back To You</li>



<li>Castaway</li>



<li>Hey How R U</li>



<li>Isn&#8217;t This Where We Had Our First Date?</li>



<li>Memory Lane</li>



<li>Venn Diagram</li>



<li>In Your Blood</li>



<li>Why Can&#8217;t I Breath Underwater?</li>



<li>Time (Where You Going)</li>



<li>Rock Bottom</li>



<li>I Need You</li>



<li>Is This Really How It Ends?</li>



<li>Buried Treasure Lost Forever</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Tom Abbott Profile</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://open.spotify.com/artist/4zDU8WtX40lAHsEVeqvFmD" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">open.spotify.com</a></li>



<li><a href="https://www.instagram.com/tom_abbott_music/" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">www.instagram.com</a></li>



<li><a href="https://www.facebook.com/TAbbottMusic/" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">www.facebook.com</a></li>



<li><a href="https://www.tomabbottmusic.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">www.tomabbottmusic.com</a></li>
</ul>



<iframe loading="lazy" src="https://api.submithub.com/disclosure.html?id=R9j4LsomovAqm6DTW&#038;color=9575cd" style="border:1px solid #9575cd" scrolling="no" width="100%" height="50px"></iframe>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>EĐĐIE Memperkenalkan Album Terbarunya ‘Grieving Hour’</title>
<link>https://parapop.net/eddie-memperkenalkan-album-terbarunya-grieving-hour/</link>
<dc:creator><![CDATA[paraPOP]]></dc:creator>
<pubDate>Sun, 28 Apr 2024 07:54:48 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[Music]]></category>
<category><![CDATA[EĐĐIE]]></category>
<category><![CDATA[Indie Pop]]></category>
<category><![CDATA[indie rock]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=25788</guid>
<description><![CDATA[Album ‘Grieving Hour’ oleh EĐĐIE membawa kita dalam perjalanan emosi yang kompleks melalui 13 lagu yang menceritakan berbagai fase dan perasaan dalam hubungan interpersonal. Album ini memulai ceritanya dengan lagu judul yang berupa pembicaraan, mengatur nada introspektif dan pribadi untuk seluruh album. Dari “Around the Sun” yang menggambarkan akhir dari sebuah hubungan panjang dengan nuansa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Album &#8216;Grieving Hour&#8217; oleh <strong><a href="https://parapop.net/tag/eddie/" data-type="post_tag" data-id="4366">EĐĐIE </a></strong>membawa kita dalam perjalanan emosi yang kompleks melalui 13 lagu yang menceritakan berbagai fase dan perasaan dalam hubungan interpersonal. Album ini memulai ceritanya dengan lagu judul yang berupa pembicaraan, mengatur nada introspektif dan pribadi untuk seluruh album.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Grieving Hour" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/6tz7fqnrOYiWW6hmNiw3wM?utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dari &#8220;Around the Sun&#8221; yang menggambarkan akhir dari sebuah hubungan panjang dengan nuansa harapan yang mendalam, hingga &#8220;Wish I Hated You&#8221; yang merenungkan kesulitan melupakan seseorang yang berarti tapi menyakitkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">EĐĐIE juga mengajak tidak lupa mengajak pendengarnya ke dalam kesendirian pahit dalam &#8220;Happier Alone&#8221; dan nostalgia yang melankolis dalam &#8220;Strawberry Cafe&#8221;, sebuah lagu yang membawa kita ke kenangan manis yang telah lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini album ini sudah membawa kita pada perjalanan yang penuh emosi namun tidak hanya sampai disitu, dengan membawa ragam genre yang bertenaga dan vokal yang EĐĐIE yang meletup-letup pengalaman ini masih membawa beragam rasa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu seperti &#8220;Contact&#8221; mengekspresikan keinginan kuat untuk memutus hubungan dengan mantan dalam narasi yang jujur, sementara &#8220;Gray House&#8221; dengan akustiknya yang mentah dan &#8220;The End&#8221; lagu penutup lagu ini membawa klimaks yang merenungkan kesedihan dan penerimaan terhadap kenyataan yang suram. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Album ini tidak hanya berfokus pada lirik yang kuat dan emosional tetapi juga menonjolkan keahlian musikal EĐĐIE dengan pendekatan yang beragam pada genre pop, rock, dan indie, memberikan nuansa yang kaya dan berlapis pada setiap lagu.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2024/04/EDDIE-Strawberry-Cafe-1-1024x1024.jpg" alt="EĐĐIE Memperkenalkan Album Terbarunya &quot;Grieving Hour&quot;" class="wp-image-25789" title=""><figcaption class="wp-element-caption">EĐĐIE Memperkenalkan Album Terbarunya &#8220;Grieving Hour&#8221;</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Album &#8216;Grieving Hour&#8217; dari EĐĐIE berhasil menghadirkan perjalanan emosional yang mendalam dan beragam, melukiskan cerita-cerita yang sangat manusiawi tentang hubungan, perpisahan, dan perjalanan menuju penerimaan diri dan mengeksplorasi tema-tema tentang cinta yang hilang, konflik batin, kesendirian yang membebaskan, dan nostalgia yang menyentuh hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan pendekatan liris yang kuat dan aransemen musik yang menarik, album ini menawarkan suatu katarsis melalui pengalaman mendengarkan yang bisa sangat relatable bagi banyak orang. Penggunaan metafora dan cerita yang kuat dalam lirik memberikan kedalaman yang memperkaya pengalaman mendengarkan, membuat &#8216;Grieving Hour&#8217; sebagai sebuah narasi emosional yang utuh. </p>



<h2 class="wp-block-heading">EĐĐIE  &#8216;Grieving Hour&#8217; Tracks list </h2>



<ol class="wp-block-list">
<li>Grieving Hour (Spoken)</li>



<li>Around the Sun</li>



<li>The Spark</li>



<li>Happier Alone</li>



<li>Melatonin Medicine</li>



<li>Wish I Hated You</li>



<li>Letters</li>



<li>Sad Boy</li>



<li>Contact</li>



<li>Strawberry Cafe</li>



<li>How Do I Say This?</li>



<li>Gray House</li>



<li>The End</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">EĐĐIE Profile </h2>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://open.spotify.com/artist/5IeN4XotqTWMopIXcWjjt2" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">open.spotify.com</a></li>



<li><a href="https://www.instagram.com/eddietamanini" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">www.instagram.com</a></li>



<li><a href="https://www.facebook.com/eddie.tamanini.35/" class="autohyperlink" target="_blank" rel="nofollow noopener">www.facebook.com</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title>Merenungi Hidup Dalam Album “Bunny” Milik Beach Fossils</title>
<link>https://parapop.net/merenungi-hidup-dalam-album-bunny-milik-beach-fossils/</link>
<dc:creator><![CDATA[Muhammad Ikhlas]]></dc:creator>
<pubDate>Fri, 23 Jun 2023 04:36:38 +0000</pubDate>
<category><![CDATA[Album Reviews]]></category>
<category><![CDATA[Featured]]></category>
<category><![CDATA[Music]]></category>
<category><![CDATA[Beach Fossils]]></category>
<category><![CDATA[Dream Pop]]></category>
<category><![CDATA[Indie Pop]]></category>
<category><![CDATA[indie rock]]></category>
<guid isPermaLink="false">https://parapop.net/?p=19254</guid>
<description><![CDATA[Ada yang berbeda pada album keempat milik Beach Fossils berjudul “Bunny”. Judul album boleh terdengar “funny” tapi mendengarkannya dalam lamunan malam yang panjang akan membuat ngeri.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://parapop.net/wp-content/uploads/2023/06/0031658864_10.jpg" alt="Beach Fossils" class="wp-image-19259" width="839" height="595" title=""></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Terlalu naif rasanya jika saya terlalu memberanikan diri untuk menulis review album ini, secara saya saja baru mulai mendengarkan Beach Fossil pada tahun 2020. Saat itu saya mendapatkan rekomendasi dari seorang teman yang mempunyai band bergenre Dream Pop di kota tempat saya tinggal. Saya memulai perjalanan mengikuti Beach Fossils dengan track “Down The Line” pada album Somersault yang dirilis oleh mereka pada tahun 2017. Heran-nya saya langsung jatuh cinta dengan lagu itu. Padahal saat itu sepertinya saya masih mendengarkan lagu-lagu yang berada di 50 teratas tangga lagu Billboard (haha). Sebuah pengakuan, tapi harus tetap saya sampaikan dalam paragraf pembuka ini. Namun saya masih ingin menulis review dari album ini semenjak single pertama album “Bunny” dirilis berjudul “Seconds”, muncul rasa penasaran terhadap apa yang ingin dilakukan oleh band asal New York yang diketuai oleh Dustin Payseur ini pada album studio ke-empat mereka. Setelah beberapa single yang dirilis oleh Beach Fossils menjelang peluncuran album, akhirnya pada tanggal 2 Juni lalu 2023 penantian tersebut berakhir manis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika anda membayangkan album ini akan berisikan hal-hal menyenangkan dengan sekumpulan riff dan melodi mayor, cerita yang menyenangkan, maka anda sepenuhnya salah. Alih-alih berbicara mengenai hal-hal yang menyenangkan, album ini justru berbicara mengenai ketakutan, penyesalan, dan <em>self reflection</em>. Berbeda dengan album “Somersault”, “Clash the Truth” dan album self title yang didominasi oleh tempo yang cepat, “Bunny” justru menawarkan sesuatu yang mungkin baru daripada album-album tersebut. Entah mengapa, saat pertama kali mendengarkan album ini, saya langsung membayangkan beberapa adegan sedih dalam sinema, seperti pada film Eternal Sunshine of The Spotless Mind, saat bagian akhir sepasang kekasih tersebut merelakan diri mereka untuk saling melupakan satu sama lain, setelah berusaha dengan berbagai cara.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Beach Fossils - Run to the Moon (Official Video)" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/dj_ZA2nxOk0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Album ini dibuka dengan ‘Sleeping on my own’ dengan lirik yang sangat melankolis, kemudian dilanjutkan dengan ‘Run to The Moon’. Pada trek kedua tersebut Payseur seolah olah sedang berbicara dengan anak perempuannya, mengucapkan terima kasih atas kehadirannya membuat Payseur lebih mengenal dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>This city hasn’t felt the same / Since you moved away, man, we had some days / Wonder if you found your way</em> . Begitu kira kira lirik pembuka dari trek ketiga berjudul ‘Don’t fade away’, terlalu melankolis? memang, namun pembeda disini adalah Dustin Payseur terdengar sudah lebih dewasa dalam penulisan lirik, daripada apa yang ditulis olehnya saat masih urakan dengan berbagai substance yang mungkin ia tenggak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya merasa empat lagu pertama yang terdapat pada album ini terlalu melankolis, walaupun dengan permainan aransemen yang biasa dimainkan oleh Beach Fossils, namun kali ini terasa sangat berbeda dengan album-album sebelumnya jika dilihat dari <em>output mood</em> yang dihasilkan. Apakah merilis album piano “The Other Side of Life” adalah salah satu cara mereka untuk memberi kesiapan pada pendengar terhadap “Bunny”? Tentu hanya mereka yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dare Me” menjadi trek favorit saya pada album ini. Ajaibnya saya hanya butuh mendengarkan sekali saja untuk dapat hafal setiap bait dan melodi yang telah ditulis oleh Dustin Payseur. Dengan berbagai pengulangan pada melodi yang mungkin terkesan dipaksakan, namun tetap saja lagu tersebut menjadi trek yang paling mudah untuk diingat dalam album ini.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Beach Fossils - Dare Me (Official Video)" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/llyh2ccHlr4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saat mendengarkan trek ketujuh dengan seksama, saya tiba tiba terdiam dengan bait menohok dari lagu yang berjudul “Feel so High” itu. <em>Everybody&#8217;s chasing after someone else&#8217;s dream / I just wanna live my life</em>. Seolah saya sedang berdialog dengan teman tentang kehidupan (bahasan yang sepertinya terdengar klise namun sungguh suatu hari pasti akan pernah terjadi), kemudian tiba-tiba lawan bicara saya melontarkan kalimat seperti yang ditulis oleh Dustin Payseur dalam lirik lagunya. Seketika saya mempertanyakan hal tersebut pada diri saya sendiri, apakah saya masih membandingkan pencapaian orang lain dengan saya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepanjang album ini, saya merasa Dustin Payseur dipenuhi oleh rasa penyesalan dan telah melalui proses pendewasaan yang rumit jika harus di breakdown satu persatu. Album ini kemudian ditutup oleh bait lirik, yang dapat diibaratkan sebagai saran pada bab terakhir sebuah skripsi tugas akhir. <em>Now don&#8217;t look back / Just put it all behind / And you could be happy</em>. Begitu kira-kira saran yang disampaikan oleh Beach Fossils melalui lirik pada trek terakhir “Waterfall”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar dari lirik dan musik-musik yang dikreasikan oleh Beach Fossils pada album ini tidak terlalu jauh berbeda dengan album-album mereka sebelumnya. Mereka masih bermain di ranah dream pop, shoegaze, dan indie rock. Sepintas terdengar generik, tapi masih sangat Beach Fossils. Mungkin perbedaannya terdapat pada mood yang dihasilkan saat mendengarkan satu album penuh. Jika harus bercermin pada album yang lebih dahulu dirilis, saya merasa Dustin Payseur sudah lebih dewasa dalam album ini, telah menerima apa yang terjadi dalam kehidupan yang fana ini, sembari masih mempertanyakannya. Hidup buat apa? Untuk Apa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">(IKH/VRD)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menambah perbendaharaan musik alternatifmu pekan ini, luangkan waktu menyimak ulasan <a href="https://parapop.net/caleb-hearn-1-day-you-will/"><strong>Caleb Hearn &#8211; 1 day you will</strong></a> serta arsip ulasan <a href="https://parapop.net/beadyo-%ea%b5%ac%ec%8a%ac%ec%9a%94-green-summer/"><strong>Beadyo 구슬요 – Green Summer</strong></a>.</p>

		<div class="review_wrap">
			<div id="review-box" class="review-box review-bottom review-stars"><h2 class="review-box-header the-global-title">Merenungi Hidup Dalam Album “Bunny” Milik Beach Fossils</h2>
								<div class="review-item">
									<h5>Merenungi Hidup Dalam Album “Bunny” Milik Beach Fossils</h5>
									<span class="post-large-rate stars-large"><span style="width:80%"></span></span>
								</div>
							
				<div class="review-summary">
					<div class="review-final-score">
						<span title="" class="post-large-rate stars-large"><span style="width:80%"></span></span>
						<h4></h4>
					</div>
				
				<div class="review-short-summary"><p>Ada yang berbeda pada album keempat milik Beach Fossils  berjudul “Bunny”. Judul album boleh terdengar “funny” tapi mendengarkannya dalam lamunan malam yang panjang akan membuat ngeri.
</p>
				</div>
			</div>
			
			<div class="user-rate-wrap">
				<span class="user-rating-text">
					<strong>User Rating: </strong>
					<span class="taq-score"></span>
					<small>Be the first one !</small>
				</span>

				<div data-rate="0" data-id="19254" class="user-rate taq-user-rate-active">
					<span class="user-rate-image post-large-rate stars-large">
						<span style="width:0%"></span>
					</span>
				</div>

				<div class="taq-clear"></div>

			</div>
		</div>
	</div>]]></content:encoded>
</item>
</channel>
</rss>
