AiramFM buka lembaran emosional lagi lewat “Tears and Blood”, lagu yang kayaknya ditulis pas langit lagi mendung dan hati baru jatuh dari lantai tujuh. Ini bukan lagu galau biasa. Ini semacam surat cinta buat cinta itu sendiri yang kadang nyakitin, tapi tetap layak diperjuangkan.
Suaranya mengambang, produksi sinematik yang kayak kabut turun pelan-pelan. Ada nuansa Lana Del Rey yang dreamy, dicampur sedikit bisikan sendu ala Billie Eilish. Tapi yang bikin beda, semua ini dia kerjain sendiri dari studio kecil di apartemen. Sendirian. Dan hasilnya malah makin bikin suasana makin intimate.
Liriknya nggak neko-neko, tapi langsung menusuk. AiramFM nggak nulis soal cinta yang manis-manis aja, tapi juga tentang luka, pengorbanan, dan semua kekacauan yang datang bareng perasaan itu. Baris kayak “Didn’t cry, didn’t live it” bisa aja cuma enam kata, tapi rasanya kayak ditampar kenangan.
“Tears and Blood” bukan buat diputar pas lagi senang. Ini lagu buat nemenin saat lo butuh validasi bahwa rasa sakit juga bagian dari hidup. Dan kadang, jatuh cinta tetap pilihan yang rasional… walau tahu bakal jatuh lagi.



