Tenang, ini bukan tentang film zombie macam World War Z atau serial televisi zombie kekinian berjudul iZombie. Pun tidak akan mengulas bagaimana Ketua Asosiasi hot daddy Dunia, Brad Pitt yang gagah perkasa berjuang untuk menyelamatkan dunia dari serangan zombie. Tidak pula untuk memperkarakan Olivia “Liv” Moore, zombie cantik nan kekinian begitu gemar memakan otak tanpa di “gulai” terlebih dahulu. Smombie bukanlah hibrida baru dalam dunia zombie, namun istilah yang populer di Jerman ini merujuk pada pejalan kaki yang begitu asyik dengan smartphone mereka sehingga tidak memperhatikan lalu lalang dan hiruk pikuk disekitarnya.

Keintiman smartphone dan penggunanya sudah sampai pada titik puncak yang amat mengkhawatirkan. Dari data yang diliris oleh Consumer Product Safety Commission di Amerika Serikat setidaknya pada tahun 2014 terdapat lebih dari 2500 pejalan kaki yang harus dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) untuk mendapat penanganan medis terkait kecelakaan yang dialami ketika terlalu asyik menggunakan smartphone sembari berjalan. Tidak hanya benjol dan memar, namun para smombie ini juga mengalami tegang otot, diskolasi sendi bahkan patah tulang. Terlalu asyik dengan smartphone tidak lagi hanya membuat batrei habis, namun juga bisa membuat kamu patah tulang. It is not funny anymore!

Secara ilmiah, fenomena smombie ini menarik perhatian para peneliti terkait perubahan perilaku pengguna smartphone. Ira Hyman Jr., seorang profesor psikologi di Washington University Western melakukan sebuah penelitian dengan menggunakan seorang badut yang beratraksi dengan sepeda roda satu di pusat kota, kemudian menanyai pejalan kaki yang melintas di dekat badut tersebut apakah mereka melihat badut tersebut. Setengah dari pejalan kaki yang tidak sedang menggunakan smartphone melihat badut tersebut, namun hanya seperempat dari pejalan kaki yang sedang menggunakan smartphone melihat badut tersebut. Inilah yang kemudian disebut Ira Hayman Jr sebagai Inattentional blindness, bahwa orang-orang merasa bahwa mereka menyadari apa yang terjadi disekitar mereka, namun mereka tidak tahu berapa banyak hal yang sebenarnya telah mereka lewatkan. Secara komprehensif, inattentional blindess dijelaskan dalam jurnal Applied Cognitive Psychology yang berjudul Did You See the Unicycling Clown? Inattentional Blindness while Walking and Talking on a Cell Phone.
Dalam istilah yang lebih kekinian, fenomena smombie ini dapat disebut juga dengan FOMO—Fear Of Missing Out—sebuah ketakutan yang meluas ketika orang lain mungkin memiliki pengalaman berharga, menarik dan menyenangkan. FOMO ditandai dengan keinginan untuk terus terhubung agar mengetahui apa saja yang dilakukan oleh orang lain memalui smartphone dan media sosial. Secara sederhana, FOMO adalah the next level of KEPO and that’s a smartphone are for, trying to hijack your attention!.

Di beberapa negara, fenomena mewabahnya smombie ini ditanggulangi dengan beberapa kebijakan yang menarik. Di Amerika Serikat misalnya, pusat perbelanjaan atau perkantoran mulai memperkerjakan seorang petugas yang khusus mengawasi para smombie yang lalu lalang di depan pintu masuk parkiran. Petugas ini memperingatkan para pengendara yang ingin masuk ke areal parkir agar tidak menabrak para smombie yang begitu khidmat memandang layar smartphone mereka. Di Swedia telah dipasang beberapa marka jalan yang memperingatkan pengendara bahwa mereka harus berhati-hati dan mengurangi kecepatan karena memasuki kawasan smombie. Layaknya marka jalan di zona aman sekolah yang sering kali kita temui ketika mengantar anak, adik atau sekedar mengagumi ibu muda yang mengantar anaknya ke sekolah. Sementara itu di China, trotoar yang sejatinya untuk pejalan kaki dibagi menjadi dua jalur. Jalur cepat untuk pejalan kaki saja dan jalur lambat untuk para smombie, penjalan kaki yang tawaf dengan khusyuk bersama smartphone mereka.

Wabah smombie tidak lagi bisa dipandang remeh, buktinya negara sampai harus turun tangan dan dibuat repot untuk mengurusi hak hidup dan keselamatan jiwa mereka. Menoleh pada sisi industri, saatnya menunjuk hidung para produsen smartphone yang dinilai berperan aktif dalam meningkatnya populasi smombie. Perbandingan sederhananya mungkin bisa dijelaskan dengan apa yang telah dilakukan oleh industri otomotif. Pemampatan sabuk keselamatan (Seat Bealt), penyertaan kantong udara (Air Bag), dan pengintegrasian sistem pengereman otomatis (Automatic-Braking Systems) yang bekerja bahkan ketika pengemudi bertindak secara tidak bertanggung jawab. Dari teknologi sederhana hingga paling canggih telah diterapkan oleh industri otomotif guna menyelamatkan nyawa pengguna kendaraan dan mengurangi korban jiwa akibat kecelakaan.
Dua produsen raksasa smartphone, Apple dan Samsung mencoba untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap keselamatan penggunanya dengan merilis perangkat Apple Watch dan Samsung Galaxy Gear . Dua perangkat ini hadir dengan layar yang lebih kecil dan lebih ringkas serta cepat untuk memeriksa notifikasi terbaru dibanding pengguna smartphone yang seringkali terpaku pada layar sentuh. Tapi…ya mahal.. Sementara itu, beberapa upaya untuk menjaga keselamatan pengguna smartphone juga dilakukan oleh banyak pihak. Diantaranya, peneliti dari Rutgers University mencoba mengembangkan applikasi android yang mampu memperingatkan pengguna smartphone ketika sudah melangkah ke jalan raya. The Ditto, sebuah perangkat nirkabel yang mencoba untuk meringankan FOMO—Fear Of Missing Out—dengan fitur getar pada smartphone untuk notifikasi yang menjadi prioritas bagi penggunanya. Ringly, sebuah rintisan digital yang membuat perhiasan atau akseseoris yang bisa berubah warna untuk memperingatkan penggunanya ketika ada notifikasi terbaru di smartphone mereka.

Namun, terlepas dari segala daya dan upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan para smombie dari ancaman keselamatan, masalah utamanya adalah smartphone itu sendiri. Ketika teknologi mendatangkan masalah, sejatinya teknologi juga mampu untuk menghadirkan solusi. Entah dengan mengurangi kecanduan dan memperingatkan kita akan bahaya yang mengintai. Satu hal yang pasti—setidaknya sampai saat ini—tidak ada obat untuk kebodohan. “handpnonenya aja udah smart, masa penggunanya enggak?” Iya, lelucon ini basi. Tetapi unjuk menjadi smombie yang intelektual, bijaksana, dan bertanggung jawab, lelucon basi ini adalah pengobatan alternatif.
