Ada rumah baru di Nottingham yang catnya masih basah dan pintunya sengaja dibiarkan terbuka. Deco membangunnya dengan dua belas ruangan, menamainya Dreamhouse, lalu mengundang siapa saja yang sedang butuh tempat untuk kabur sebentar. Di tahun yang bisingnya tidak kunjung reda, undangan seperti ini terdengar lebih menggoda dari biasanya.
Kuartet synth-pop yang dibentuk kakak-beradik dan kawan lama ini melejit lewat cover viral Wonderwall, Yellow, dan Angels, lalu membawa album debutnya ke posisi sepuluh tangga penjualan album Inggris dan sempat dapat acungan jempol dari Elton John. Di album kedua ini, lagu karangan orang lain tidak lagi duduk di ruang tamu. Semua penghuninya ciptaan sendiri.
Max Kendall, sang vokalis, menyebut Dreamhouse pelarian dari kekacauan 2026, dan proses rekamannya jadi cara band menutup pintu dari bising dunia luar. Rumahnya pun tidak berhenti di musik, sampai ada konser intim di ruang tamu rumah penggemar. Kenyataan tidak dikunci di luar. Ia cuma diminta menunggu di teras sebentar, sementara kita menghilang ke dalam dan keluar lagi dengan kepala yang lebih ringan.
Pintu depannya adalah trek judul, dan fondasinya Roland Juno-6, synth kesayangan band yang mengalir di sepanjang album. Ia melangkah dengan hentakan mantap dan groove synth yang berdenyut, ditemani gitar funky, bass yang licin, chorus falsetto, dan saksofon Lucy Kendall yang kembali menyapa di chorus terakhir. Kalau album ini sebuah masakan, Juno-6 adalah kaldunya, dan saksofon itu bumbu yang membuat kita langsung tahu ini dapur siapa.
Di album ini saksofon tidak lagi menunggu giliran solo, tapi jadi lapisan di hampir setiap lagu. Dreamhouse sendiri nyaris rampung ditulis dalam sehari, dan seluruh album selesai dalam enam bulan, jauh lebih cepat dari debut mereka yang ditulis tiga tahun di banyak ruangan berbeda. Hasilnya terdengar padu. Sekilas ada jejak Hot Chip dan Nation of Language, tapi rumah ini tetap punya wajahnya sendiri, nostalgis tanpa terasa seperti acara reuni yang canggung.
Weekend menangkap rasa tak sabar lepas dari rutinitas lewat perkusi yang berbaris rapi dan chorus yang minta dinyanyikan bareng. You’re So Beautiful membungkus detik sadar sedang jatuh cinta jadi pop elektronik yang euforik. BIG!!! menertawakan aturan industri musik yang berganti lebih sering daripada jadwal ganjil-genap, sementara Make A Video melambat dengan ketukan downtempo dan petikan gitar yang menusuk-nusuk.
Ruangan paling terang ada di On The Radio, lagu andalan album ini. Ia bercerita tentang sensasi mendengar lagu yang terasa milikmu sendiri diputar di radio, entah lagu yang kamu tulis atau lagu yang sudah kamu klaim bersama teman-teman.
Durasinya cuma dua menit lima puluh lima detik. Drum berjalan sejak awal, vokal Max langsung berdiri paling depan, synth dan bass synth mendorong dari belakang, semuanya di nada mayor yang terang. Di menit kedua lewat dua puluh detik, hampir semuanya ditarik mundur selama sekitar sepuluh detik dan vokal dibiarkan sendirian, lalu lagu kembali penuh seperti rumah yang lampunya padam sebentar dan menyala serentak.
Max menyebut lagunya tentang “big dreams, spontaneous nights with your favourite people”. Ada rindu di sana, tapi wajahnya tetap menghadap ke depan. Hook-nya euforik, dan tekstur synth yang sedikit lebih gelap menyelinap di bawahnya, cukup untuk menahan lagu ini supaya tidak kemanisan. Saya curiga kepala yang mengangguk-angguk begitu hook itu datang cuma soal waktu.
Tidak semua ruangan dicat kuning cerah. Driver’s Seat menutup album dengan keraguan diri dan tekad untuk terus menyetir walau belum tahu jalannya ke mana. Gitar dan teksturnya lebih tebal, dan saksofon Lucy mengambil alih paruh keduanya. Justru lagu seperti ini yang membuat optimisme album terasa diperjuangkan, bukan dibagikan gratis di pintu masuk.
Lebih dari separuh lagunya sudah terdengar sebelum album keluar, dan buat yang baru mengetuk pintu Deco sekarang, itu justru kabar baik. Mereka bisa langsung masuk ke rumah yang perabotnya sudah lengkap, tanpa perlu menunggu ruangan dibuka satu per satu selama berbulan-bulan.
Penggemar lama pun tetap kebagian kejutan, karena Talking In My Sleep dan Movie Star baru dibuka sekarang, satu masuk lewat perkusi yang berkeresek lalu jadi jam synth-pop yang gelisah, satu lagi merapat ke disko.
Catnya mungkin masih basah. Tapi selama tiga puluh sembilan menit, rumah ini sudah sangat layak ditinggali.
Daftar lagu Dreamhouse
- Dreamhouse
- Talking In My Sleep
- BIG!!!
- Movie Star
- Weekend
- You’re So Beautiful
- Fever Dream
- Tiger Blood
- Make A Video
- On The Radio
- Beautiful Things
- Driver’s Seat





