Ditanya soal musik Dead Rockstars, Jovi Skyler menjawab dengan muka datar, “I obviously wanted to rip off Nirvana’s Smells Like Teen Spirit.” Lalu ia bilang bercanda. Lalu ia bilang, atau mungkin juga tidak.
Pengakuan itu jadi lucu karena single pembuka ini justru bicara soal matinya keaslian, mesin dopamin, dan manusia yang hidup dengan cara salin-tempel. Lebih lucu lagi, Unpopular, album kedua solois asal Sydney ini, dimastering oleh Jack Endino, orang yang duduk di balik meja ketika Nirvana menggarap Bleach. Ironi yang terlalu rapi untuk dikarang.
Resepnya diracik di sebuah basement studio di Sydney, dengan sesi terakhir rampung tepat di Twin Peaks Day. Jovi mengaku nyaris tidak tidur sepanjang rekaman, berteriak sekencang-kencangnya di ruang bawah tanah setelah berhari-hari melek. Kebiasaan begadang ditemani satu liter kopi ia bawa sejak dua tahun berkelana di Eropa, setelah suatu hari memutuskan bolos permanen dari Sydney Conservatorium of Music. Satu liter. Itu kadar kafein mahasiswa-tingkat-akhir-dikejar-dosen-pembimbing.
Kurang tidurnya memang terdengar. Ruangnya sempit dan kering. Drum akustik dipukul tanpa banyak polesan, bas mendengung di bawah, dan gitar berdistorsi mengisi bagian tengah dengan tekstur berpasir. Vokal Jovi parau dengan gigitan punk, santai di bait lalu mendadak menyerang, dan di beberapa bridge didorong sampai register tertingginya. Ada kemarahan yang ditahan di bait, lalu dilepas tanpa sisa di reff.
Dead Rockstars tidak membuang waktu. Riff gitar yang kasar langsung menyambar di detik pertama. Setelah Jovi bernyanyi “we’re just bones”, vokal keroyokan menyeruak dan reff melebar seketika. Menjelang akhir semuanya surut, menyisakan dengung gitar yang menggantung sebentar di udara. Dari sana Hermit mengambil alih dengan permainan gitar yang lebih intim sebelum band masuk penuh, sambungan yang membuat kita lupa sedang berganti lagu.
Pilihan spesial saya jatuh pada Outcast, nomor paling ngebut di paruh awal. Progresi akor pembukanya seolah sengaja diracik untuk lingkaran mosh, drumnya kering dan menghukum, dan Jovi berteriak ritmis seperti ikut jadi instrumen tambahan. Ia pendek, padat, dan tidak memberi celah untuk bosan.
Lazy Daze mengendurkan ikat pinggang. Gitarnya berdenting santai, groove-nya lurus, dan Jovi bernyanyi di nada tengah seperti sedang ngobrol di teras. Lalu di Shame ia mengaku tanpa beban, “I’m so ashamed, I got no brain”, dan kita tidak tahu harus mengangguk atau tertawa.
Night Time Is My Time menutup album dengan riff berat, sekilas seperti Black Sabbath yang kebanyakan begadang, plus lirik tentang manisnya rasa terpentin. Bumbu paling ganjil di seluruh racikan. Di ujungnya, gitar dibiarkan berdenging lalu tenggelam ke ruang gelap yang lapang.
Video musik Dead Rockstars ia sunting sendiri. Potongan arsip ikon-ikon grunge yang sudah tiada dijahit dengan rekaman penampilannya, seperti orang yang mencoba menembus layar berisik untuk menyapa hantu-hantu masa lalu. Murah, DIY, dan pas betul dengan lagunya.
Kalau mau mencari celah, racikan Unpopular memang setia pada resep yang sama dari lagu ke lagu, dan Lazy Daze memilih mengalir lurus alih-alih memuncak. Tapi justru di situ enaknya. Jovi tahu persis bumbu apa yang ia punya, dan ia tidak merasa perlu menabur bumbu lain hanya supaya terlihat sibuk di dapur.
Kurangi kopinya, mas Jovi. Eh, jangan deh. Biar kita saja yang mentraktir kopinya, langsung lewat Bandcamp, tanpa dipotong platform streaming yang royaltinya cuma cukup buat beli sedotan.
Album Unpopular milik Jovi Skyler rilis 25 September 2026 secara independen dan bisa dibeli langsung di :
Daftar lagu album Jovi Skyler Unpopular:
- Dead Rockstars
- Hermit
- Outcast
- Breakdown
- Lazy Daze
- Edie Sedgwick
- Anarchy in the Cellophane
- Shame
- Get Around
- Night Time Is My Time
Jovi Skyler Profile
Bagi penikmat nomor alternatif dengan letupan distorsi tajam dan energi yang tak kalah menggigit, simak ulasan Mossrose – Cautious driver serta ulasan album Sea Lions Pulang Lewat Another POP! Music.





